Home / Profil Da'i / Syaikh Bin Baz, Syukuri Kebutaan dengan Mengabdi Umat

Syaikh Bin Baz, Syukuri Kebutaan dengan Mengabdi Umat

Kendati memiliki keterbatasan, Syaikh Bin Baz terkenal memiliki tingkat intelegensi yang luar biasa dan juga kemampuan hafalan yang baik. Beliau mampu menghafal dan memahami suatu artikel hanya dengan sekali dibacakan.

Umat Islam patut berbangga memiliki ulama sekaliber Syaikh Bin Baz. Ulama yang multi ilmu, dikenal sebagai ahli hadits, aqidah, hingga fiqih.

Lahir tanggal 12 Dzulhijjah 1330 H (1912 M), di Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Saudi Arabia. Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdillah ‘Ali Baz, demikian nama lengkapnya. Beliau seorang yatim. Ayahnya telah meninggal dunia sejak masih balita. Beliau pun tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ibu dan keluarga terdekat.

Semasa hidup, ilmunya digunakan untuk mengabdi kepada agama Allah hingga wafatnya,  hari Kamis, 27 Muharam 1420 H di usia 80 tahun.

Riwayat Pertumbuhan Beliau

Syaikh Bin Baz telah mampu menghafal Al-Qur'an di saat usia beliau masih sangat kecil, saat menghafalnya beliau ber-murajaah kepada Syaikh ‘Abdullah bin Furaij. Setelah itu, beliau pun mempelajari ilmu-ilmu syariat dan Bahasa Arab melalui bimbingan ulama-ulama di sekitar Kota Riyadh. Di antaranya kepada Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Lathif bin ‘Abdirrahman bin Hasan bin Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (seorang hakim di Kota Riyadh), Syaikh Hamid Bin Faris (seorang pejabat Wakil Urusan Baitul Mal, Riyadh), Syaikh Sa’d (Qadhi Negeri Bukhara dan seorang ulama Makkah).

“Saya menimba ilmu tauhid darinya pada tahun 1355 H,” ujar beliau.

Ketika mulai belajar agama (ketika masih kecil), beliau bisa melihat dengan baik dan normal. Namun musibah terjadi ketika tahun 1346 H (di usia sekitar 16 tahun). Kala itu, mata beliau terkena sebuah infeksi yang berangsur membuatnya sakit dan rabun. Hingga akhirnya mata beliau tidak dapat melihat sama sekali.

Kebutaan total ini terjadi pada tahun 1350 H (sekitar usia 20-an tahun). Namun itu tidak menjadi sebuah penyelasan bagi dirinya. Justru beliau merasa bersyukur sekali dengan kondisinya.

Benar saja, kendati memiliki keterbatasan, Syaikh Bin Baz terkenal memiliki tingkat intelegensi yang luar biasa dan juga kemampuan hafalan yang baik. Beliau mampu menghafal dan memahami suatu artikel hanya dengan sekali dibacakan. Ini adalah rahasia di balik majunya ilmu serta wawasan yang dimiliki Syaikh Bin Baz dalam ilmu agama.

Terjun Ke Masyarakat

Perjalanan asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz yang panjang dalam menuntut ilmu dan penguasaan beliau yang bagus atas berbagai disiplin ilmu agama mendapatkan nilai penghormatan dari guru beliau, Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah yang saat itu menjabat sebagai Mufti Kerajaan Saudi Arabia.

Beliau diproyeksikan menjadi qadhi (hakim agama) yang menangani berbagai problem sosial kemasyarakatan dan dakwah. Saat itu beliau baru berusia 27 tahun.

Tepat pada Jumadal Akhir 1357 H, keluarlah surat penunjukan beliau sebagai qadhi (hakim agama) untuk Kota Kharj dan seluruh wilayah cakupannya.

Tugas baru sebagai qadhi (hakim agama) diterima oleh beliau dengan penuh tawadhu’ (rendah hati). Beliau menyakini bahwa jabatan itu adalah amanat yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan kelak akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Tidak lama kemudian beliau pindah ke Kota Kharj, tepatnya di daerah Dalm yang merupakan pusat pemerintahan Kota Kharj.

Satu hal yang menarik bahwa tugas sebagai qadhi (hakim agama) yang diemban tidak menghalangi dari kegiatan dakwah dan penyebaran ilmu agama. Bahkan, beliau masih antusias memberikan yang terbaik untuk masyarakat Kota Kharj dengan mencurahkan segenap kemampuan yang dimiliki.

Setelah tiba di tempat penugasan, gayung pun bersambut. Tugas di Kota Kharj ternyata tak sebatas sebagai qadhi (hakim agama). Beliau juga diberi amanat sebagai Imam Masjid Jami’, khatib Jum’at, nazhir wakaf (pengurus lembaga wakaf), penanggung jawab anak-anak yatim, da’i (penggiat dakwah), penanggung jawab di bidang pertanian, dan pelayanan umum.

Karena itu, semangatnya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Kota Kharj dapat terealisasi melalui berbagai media tersebut. Pada saat jam kerja, beliau aktif di Kantor Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah) menangani beragam kasus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Di bidang pertanian, beliau pun berupaya untuk menyatu dengan para petani. Berbagai program beliau canangkan untuk kemajuan pertanian di Kota Kharj. Termasuk program pemberantasan hama, beliau langsung terjun di lapangan bersama para petani.

Ulama yang Langka

Syeikh Bin Baz tidak pernah makan sendirian. Beliau memilih untuk menyantap makan secara bersama-sama. Pada suatu kesempatan, Syeikh Bin Baz datang dari perjalanan jauh, kemudian salah seorang asistennya membujuk beliau agar segera makan sendiri karena beliau tampak sudah lapar. Beliau menolak, sehingga tetap makan bersama para tamunya yang sudah menunggu kehadiran beliau.

Suatu ketika, ada pencuri yang masuk ke dalam rumah beliau. Pencuri itu tidak ditangkap dan dihukum. Syeikh Bin Baz yang mengetahui kejadian itu malah memangilnya dan memberinya makan. Beliau kemudian bertanya pada pencuri tersebut alasan utama kenapa ia mencuri. Ia mengatakan bahwa yang dilakukannya itu sangat terpaksa karena butuh biaya untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit di negeri sebrang. Mendengar cerita dari pencuri tersebut, Syeikh Bin Baz langsung memberi sejumlah uang yang dibutuhkan untuk menutup biaya pengobatan ibu dari pencuri tadi. Subhanallah. Sejak saat itulah pencuri tersebut kemudian menjadi salah satu murid beliau yang sangat setia.

Warisan Ibnu Baz

Syaikh Ibnu Baz banyak mewariskan karya ilmiah. Ada yang dalam bentuk tulisan, rekaman ceramah hinga materi seminar.

Karya tulis Syaikh Ibnu Baz adalah hasil transkrip dari ceramah-ceramah atau ucapan beliau yang disalin oleh murid-muridnya.

Misalnya dalam buku "al-Aqidah ash-Shahihah" yang menerangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, menegakkan tauhid memerangi kesyirikan. Syaikh Bin Baz benar-benar menyandarkan tafsir Al-Qur'an dan syarah hadits-hadits yang dibawakan dalam kitab-kitabnya pada pemahaman Salafus Shalih (pemahaman para Shahabat) serta ulama-ulama Ahlus Sunnah yang mengikuti mereka.

Pembelaannya terhadap aqidah tauhid dan sunnah yang murni pun tertuang dalam banyak karyanya, salah satunya adalah "at-Tahdzir 'alal Bida'".

Karya-karya beliau sangat menekankan koreksi ritual ibadah. Karena tidak kita pungkiri, banyak praktik-praktik ibadah yang menyelisihi tuntuntan Rasulullah. Seperti bagaimana haji dan umrah yang sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah. Tentang bagaimana shalat sesuai bimbingan Nabi Muhammad. Tentang bagaimana puasa dan zakat. Beliau juga memiliki kumpulan fatwa yang telah dikumpulkan oleh Muhammad bin Saad asy-Syuwai’ir dalam 18 jilid tebal.[] Fahmi

Check Also

Dr. Yusuf Estes: Mantan Pendeta yang Telah Mengislamkan Ribuan Orang

Ceritanya bermula di tahun 1991. Ketika itu ayahnya yang menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *