Home / Profil Da'i / Syaikh Ammar Bugis: Tak Merasa Cacat di Hadapan Allah

Syaikh Ammar Bugis: Tak Merasa Cacat di Hadapan Allah

Ammar Bugis, membaca namanya mengingatkan kita akan Indonesia, tepatnya suku Bugis, kelompok etnik asal Sulawesi Selatan.
Tidak salah, faktanya, Syaikh Ammar yang di belakangnya terdapat nama “Bugis” memang memiliki nasab dari ayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
“Kakek buyut saya bernama Syaikh Abdul Muthalib berasal dari Makassar bersuku Bugis. Beliau hijrah ke Makkah untuk mengajar Tafsir di Masjidil Haram,” terang pria yang memiliki nama lengkap Ammar bin Haitsam bin Abdullah Bugis kepada Majalah Suara Hidayatullah suatu ketika.
Pria yang lahir di Wisconsin, Amerika Serikat, 22 Oktober 1986 itu kini sehari-harinya tinggal di Jeddah, Arab Saudi. Semenjak kecil, Ia harus menerima kenyataan hidup berada di atas kereta dorong yang biasa digunakan untuk bayi.
Dari keseluruhan organ tubuhnya, hanya mata, mulut, dan telinga yang bisa digerakkan. Sedangkan tangan dan kakinya tidak tumbuh sebagaimana usianya.
Ammar mendapat musibah kecil. Umur dua bulan, dokter spesialis neurologi di sebuah rumah sakit di AS menyatakan ia mengidap Werdnig Hoffman. Penyakit langka, ditandai gejala berupa kelumpuhan total seluruh saraf yang menyebabkan hilangnya kemampuan gerak seluruh tubuh, kecuali mata dan lidah.
Dokter juga menyatakan Ammar tak akan mampu bertahan hidup lebih dari dua tahun. Berbagai pengobatan telah dilakukan oleh neneknya. Dari mulai cara syar’i seperti ruqyah syar’iyah, madu, air zamzam, atau medis yang dibenarkan.
Meski demikian, penyakit ini tak menyurutkan semangat hidupnya. Ia terus berjuang hidup. Tidak hanya berjuang untuk hidup, tapi juga berjuang untuk berkarya. Ammar bahkan sudah hafal 30 juz Al-Qur’an sejak usia 13 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Saat kuliah, Ia bahkan lulus dari Jurusan Jurnalistik King Abdul Aziz University. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra dan Humaniora Universitas King Abdul Aziz dengan nilai cumlaude.
Padahal, di awal kuliah, banyak mahasiswa yang menatapnya dengan pandangan heran. Kini, meski di atas kursi dorong, ia tetap berkarya, bahkan melakukan kegiatan peliputan berita olahraga untuk Harian Al-Madinah. Ia juga menjadi kolumnis Harian Ukaz terbitan Riyadh.
Menariknya, Allah memberinya karunia ingatan yang tajam. Saat pengalaman melakukan peliputan dan wawancara, ia bahkan tidak pernah menggunakan rekaman, tapi mengandalkan ingatan.
Banyak orang yang belum mengenal menganggap Ammar adalah pria cacat yang tak mempunyai harapan hidup. Tapi, Ammar tidak merasakan demikian. Bahkan dengan yakin ia mengatakan, cacat sebenarnya bukan terletak pada kekurangan fisik maupun kelumpuhan jasad.
“Cacat sesungguhnya adalah cacat dalam cara berpikir dan cacat hati. Kelumpuhan sesungguhnya adalah kelumpuhan iman dan akal,” ujar penulis buku dengan judul “Penakluk Kemustahilan: Perjuangan Pemuda Berkebutuhan Khusus Melampaui Keterbatasan” ini.
Bukan Cacat
Meski banyak keterbatasan, Ammar merasa yakin dirinya bukan orang cacat. Keyakinan bahwa dirinya bukanlah orang cacat sudah ditanamkan saat dirinya masih berusia 7 tahun (tamyiz). Keyakinan itu tumbuh saat seorang anak kecil yang datang, sambil mengatakan, “Kenapa kamu tidak bisa berjalan dan bergerak?”
Maka Ammar Bugis pun balik bertanya kepadanya, “Mengapa kamu bisa berjalan dan bergerak?”
Anak itu menjawab, “Allah telah menciptakan saya bisa berjalan dan bergerak.” Lalu Ammar pun berkata, “Sama saja, Allah telah menciptakan saya tak bisa bergerak dan berjalan.”
Keyakinan itulah yang membuatnya tak pernah merasa minder dan berbeda.
Ia bahkan mengaku sangat berkesan saat dipercaya menyampaikan pidato pada Konferensi Internasional III bagi kalangan kebutuhan khusus di Riyadh tahun 2006. Kala itu ia ditunjuk Ketua Pusat Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus “King Abdullah”, H.R.H Sultan bin Salman bin Abdul Aziz untuk menjadi juru bicara resmi kalangan kebutuhan khusus di Kerajaan Arab Saudi.
Salah satu kalimat yang ia sampaikan dalam pidato itu adalah, “Saya seorang Muslim. Saya bukan orang cacat.”
Dalam pidato yang disiarkan oleh televisi Arab Saudi itu membuat haru banyak orang sampai membuat perempuan asal Peru memeluk Islam.
Ceramah yang Mengharukan
Mengawali nasihatnya dihadapan para dosen dan mahasiswa di salah satu Universitas di Jakarta, Syaikh Ammar mengomentari sebuah pepatah yang mengatakan bahwa akal yang selamat hanyalah terdapat pada badan yang sehat, menurutnya hal ini kurang tepat.
“Selama ini kita mendengar pepatah bahwa akal yang selamat itu terdapat pada badan yang sehat, padahal semestinya adalah akal yang selamat hanyalah terdapat pada hati yang sehat,” kata Ammar mengawali nasihatnya.
Beliaupun menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik sempurna tapi hatinya tidak sesempurna fisiknya.“Banyak diantara kita yang memiliki fisik sempurna, tapi hatinya tidak sesuai dengan fisiknya, “katanya.
Beliaupun menyarankan kepada para Mahasiswa agar giat menghafal Al-Qur’an dan jangan mudah putus asa. “Hafalkan Al Quran, lakukan dengan ayat-ayat yang pendek terlebih dahulu, sayapun dulu melakukannya demikian, sampai waktu itu saya bisa menghafal satu juz dalam sehari,” ujarnya.
Tak lupa beliau juga berulang kali mengingatkan kepada hadirin tentang pengamalan 5 Rukun Islam dan Rukun Iman. Dengan mengamalkannya maka kita telah menjauhkan diri dari api Neraka dan semakin dekat dengan Surga. Salah satu cara agar keimanan semakin tebal adalah terus menerus menjaga amal baik, bersedekah, dan menjaga shalat kita. Begitulah beliau mengingatkan dengan bahasa yang sangat mudah dicerna oleh hadirin.
Setelah kurang lebih satu jam, ceramah ditutup, beliau mendapat sambutan yang sangat meriah. Tiba-tiba seorang dosen dan pakar Ushul Fiqih asal mesir, DR. Azazi menemuinya dan mengucapkan salam sambil terharu. Kemudian datang pula, Ahmad Aris, seorang mahasiswa Fakultas Syari’ah yang mendengarkan ceramah beliau, menangis terharu dan merasa termotivasi oleh nasihat Syaikh Ammar.

About Admin

Check Also

Syaikh Bin Baz, Syukuri Kebutaan dengan Mengabdi Umat

“Kendati memiliki keterbatasan, Syaikh Bin Baz terkenal memiliki tingkat intelegensi yang luar biasa dan juga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *