Home / Kajian Utama / Semua Berawal dari Masjid

Semua Berawal dari Masjid

“Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhumama diangkat menjadi panglima perang saat umurnya belum genap 20 tahun.”

Pada waktu itu, orang-orang Muhajirin berbondong-bondong menuju Madinah atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka terusir dari kampung halaman mereka dan harta mereka. Semua itu mereka tinggal di Makkah sehingga tiba di Madinah dalam keadaan miskin, jauh dari kerabat, dan fisik yang lelah.

Setiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengurus perekonomian mereka, tidak pula angkatan bersenjata, juga tidak sektor kesehatan. Lantas apa yang dilakukan beliau? Mencari tempat untuk membangun masjid. Padahal di kanan-kiri mereka ada negara adidaya Romawi dan Persia yang kuat persenjataannya dan maju perekonomiannya yang siap menghantam Madinah, tetapi hal itu tidak membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam resah dan perlu membuat saingan. Bagi beliau, membangun karakter dan menguatkan hati dengan ketakwaan jauh lebih penting daripada tampilan luar dan kekuatan fisik.

Kisah ini diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah beliau singgah di dataran tinggi Madinah di perkampungan bernama Bani ‘Amr bin ‘Auf dan bermalam di sana selama 14 hari. Kemudian beliau mengutus agar pembesar Bani an-Najjar datang. Mereka pun datang dengan menggantungkan pedang-pedang mereka (untuk mewaspadai serangan tiba-tiba dari Yahudi). Seingatku beliau menaiki kendaraannya dan Abu Bakar dibonceng di belakang sementara Bani an-Najjar mengelilinginya lalu mengunjungi rumah Abu Ayyub (pembesar kaum Anshar). Beliau shalat di mana masuk waktu shalat dan beliau shalat di tempat marabidh (kandang luas) kambing. Kemudian beliau memerintahkan agar membangun masjid. Beliau menyuruh memanggil Bani an-Najjar lalu bersabda:

«يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا» قَالُوا: لَا، وَاللهِ لَا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ»

‘Wahai orang-orang an-Najjar, juallah kebun kalian ini (untuk dibangunkan masjid)!’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah tidak, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah (maksudnya gratis).’

Sedang di kebun itu ada sesuatu yang akan aku katakan kepada kalian, yaitu kuburan orang musyrikin, bagunan roboh, dan pohon-pohon kurma. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar kuburan orang-orang musyrik digali (untuk dipindahkan), bangunan yang roboh supaya diratakan dengan tanah, dan pohon kurma supaya ditebang. Kemudian ditegakkan pohon kurma di bagian kiblat untuk masjid dan memperkuat kosen pintu dengan batu, lalu para shahabat saling memindahkan batu-batu yang besar sambil bersenandung bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالمُهَاجِرَهْ»

“Ya Allah tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.’” (HR. Al-Bukhari no. 428 dan Muslim no. 524)

Mereka dididik beliau dengan pengajaran dan majlis taklim di Masjid, juga memotivasi untuk belajar dan mendatangi Masjid. Muncullah dari sana generasi tangguh hatinya dan kuat tekadnya. Kekurangan pangan dan fasilitas perang tidak melemahkan mereka berjihad mengorbankan harta dan jiwa untuk menyebarkan Islam, bahkan Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma diangkat menjadi panglima perang saat umurnya belum genap 20 tahun dan ia memenangkan peperangan melawan Romawi, setelah pertolongan dari Allah.

Mereka Gemar Bersedekah

Ada yang menyedekahkan harta terbaiknya seperti Abu Thalhah. Ada yang menyedekahkan 1000 onta dalam satu majlis seperti ‘Utsman bin Affan. Ada yang menyedekahkan separuh hartanya seperti ‘Umar bin al-Khaththab. Bahkan ada yang menyedekahkan semua hartanya seperti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum hingga Nabi terkagum-kagum dan menghawatirkan keluarganya:

«يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

Wahai Abu Bakar, apa yang kamu sisakan untuk keluargamu? Dia menjawab, “Aku sisakan untuk mereka Allah dan RasulNya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3675 dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)

Mereka Orang-Orang Cerdas dan Pandai

Berapa hadits yang dihafal Abu Hurairah yang sampai kepada kita? 5.000 lebih dan ini belum semua hafalannya. Ini dia Zaid bin Tsabit sang pencatat wahyu. Dia disuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajari bahasa Ibrani untuk membalas surat-surat Yahudi dan berhasil menguasai bahasa ini dalam 17 hari. Allahu Akbar!

Mereka Rajin Ibadah

Tentang ibadah mereka? Merekalah ikon dan simbol ibadah. Allah memuji mereka sebagai ahli ibadah meski sebagian mereka tetap berjualan di pasar. Allah befirman, “Mereka adalah laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (QS. An-Nur [24]: 37)

Lebih hebat lagi, mereka semua Allah jamin dengan Surga saat jasad mereka masih berjalan di pasar-pasar, lembah-lembah, dan kebun-kebun. Allahu akbar!

«وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ»

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 100)

Kita tidak akan mampu seperti mereka kecuali jika kita mengikuti motto hidup mereka, yaitu Semua Berawal dari Masjid. Allahu a’lam.[]

Oleh: Nor Kandir

About Admin

Check Also

MASJID DAN SOLUSI PERPECAHAN UMAT

Kajian Utama Oleh Dr. Slamet Muliono, M.SI   Bersama-sama memakmurkan masjid, bisa menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *