Home / Inspirasi / PPPA Darul Qur’an : Menampung Tahfidz Muda dari Kaum Dhuafa

PPPA Darul Qur’an : Menampung Tahfidz Muda dari Kaum Dhuafa

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok seluruh masyarakat Indonesia. Tidak hanya pengetahuan umum saja, tetapi juga ilmu keislaman. Sayangnya, tidak semua orang dapat merasakan belajar ilmu agama ini. Terutama, bagi kalangan keluarga yang kurang mampu (dhuafa). Begitu pula dengan lembaga-lembaga yang menampung mereka untuk belajar tentang pengetahuan agama.

Salah satunya seperti Pusat Pendidikan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an. Beralamat di Wisma Haji Ngadirojo Jalan Raya Wonogiri-Ngadirojo KM, pondok pesantren ini berdiri sejak 2011. Saat ini pondok ini menampung setidaknya 26 orang dan mayoritas merupakan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sementara pengajarnya, ada 4 orang ustadz.
Bermula dari kunjungan sekaligus ceramah da’i nasional Yusuf Mansur ke Wonogiri. Setelah itu, Bupati Wonogiri membuat sebuah pondok pesantren Daarul Qur’an. Bekerjasama dengan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) sebagai penyelenggara dan Baitul Qur’an selaku pihak pengelolanya.

“Akhirnya berdirilah PPPA Daarul Qur’an di Wonogiri sekitar tahun 2011,” tutur Syar’i, salah satu tenaga pengajar PPPA Daarul Qur’an.

Pada awal berdiri, pondok ini memiliki santri 20 orang dan setingkat dengan pendidikan SMP 3 tahun. Syar’i mengungkapkan, dulu sistem pendidikannya tidak seformal sekarang. Santrinya tidak diwajibkan untuk bermukim di pondok. Sayangnya santrinya terus berkurang hinggga tersisa 6 orang dan berkurang menjadi 3 orang santri yang tercatat lulus.

Kemudian pada tahun 2012, dibuka pendaftaran santri baru untuk pertama kali. Masuklah 9 orang santri baru. “Barulah saat itu, sedikit demi sedikit sistem pendidikannya kita buat lebih ketat dengan diwajibkannya berasrama di pondok,” terangnya.

Alhasil, setiap tahun kualitas hafalan para alumninya meningkat. Dari angkatan pertama yang baru berhasil menghafal 5 juz. Lalu angkatan kedua mencapai 10 juz. Syar’i menargetkan untuk angkatan ketiga yang akan lulus dalam waktu dekat bisa menambah hafalannya menjadi 15 juz.

Adapun kegiatan kesehariannya intensif selama 24 jam. Dimulai dari bangun pukul 04.00 WIB. Dilanjutkan dengan Shalat Shubuh dan juga halaqah untuk menyetor hafalan. Kegiatan menghafal ini dilakukan hingga pukul 05.30. Barulah setelah itu, diadakan piket untuk membersihkan sudut-sudut pondok, baik masjid maupun asrama. Pada pukul 06.15, santri sudah selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Untuk sekolah formal sendiri, pihak pondok bekerjasama dengan SMP Muhamadiyah Wonogiri. Hal ini dilakukan agar bisa disesuaikan antara program pondok dengan kegiatan sekolah formal para santri. Dari sana pula nantinya akan ada pengontrolan rutin dari pihak pondok, bagaimana prestasi maupun budi pekerti para santri selama di sekolah.
“Kami juga mengadakan kegiatan shalat Dhuha di sela istirahat sekolah,” terang pengurus yang baru masuk pada tahun 2012 ini.

Setelah jam sekolah selesai, para santri akan kembali ke pondok.

Kegiatan para santri tidak berhenti di situ saja. Selepas sekolah mereka dipersilahkan untuk istirahat tidur siang. Selepas itu, mereka diwajibkan melakukan murajaah (mengulangi) hafalan mereka pada hari itu. Bakda Maghrib, dilaksanakan muhasabah amal yaumi. Kegiatan ini seperti evaluasi selama seharian dimulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Contohnya, doa-doa dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti memakai pakaian, pergi ke masjid, doa sebelum-sesudah makan, dan lain-lainnya.
“Ya memang pada tahun pertama mereka di sini, kami sudah mewajibkan mereka untuk menghafal doa sehari-hari dan wajib diaplikasikan,” terangnya.

Barulah setelah Isya, mereka mengaji satu per satu dan membacakan kepada ustadznya apa yang hendak dihafal keesokan harinya. Begitu kegiatan yang rutin dilaksanakan tiap hari.
Alhamdulillah, prestasi santri-santrinya di sekolah terbilang memuaskan. Hampir seluruh santri masuk urutan peringkat tertinggi 1-10 di sekolah formalnya.

Syar’i berharap para santrinya memiliki kemandirian, kedisiplinan dalam beribadah, berakhlak karimah (mulia), dan memiliki hafalan Al-Qur’an.

Hanya saja, saat ini masih terganjal persoalan dana. Sehingga masih harus mencari pernyalur yang bersedia mendanai.
Mengenai dana operasional pondok didapat dari infaq rutin yang diberikan para donatur tiap bulannya. Mereka ini para donatur yang bersedia mendanai pembangunan Daarul Qur’an saat Yusuf Mansur datang ke Wonogiri. Ditambah juga kenalan dari kantor-kantor dan pihak pondok mengakui tidak menutup bantuan dari para calon donatur.
“Program jangka panjang kami, agar sekolah formal tidak lagi di luar, melainkan cukup di dalam pondok. Oleh karena itu, kita perlu SDM dan biaya yang tidak kecil,” terangnya di akhir perbincangan.[FAZ]

About Admin

Check Also

Masjid Al-Hajah Sittul Banat ; Kokoh di Bekas Tanah Angker

Bertempat di Jalan Goa Landak No.1 Mantup Lamongan, sebuah bangunan berukuran 13 X 15  meter …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *