Home / Kajian Utama / PERPECAHAN UMAT DAN BANGSA BESERTA SOLUSINYA

PERPECAHAN UMAT DAN BANGSA BESERTA SOLUSINYA

PERPECAHAN UMAT DAN BANGSA BESERTA SOLUSINYA

Edisi Mei 2017 | Masajid

Siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah lalu ia mati, maka ia mati seperti kematian orang jahiliyah.

Perpecahan atau iftiraaq artinya memisahkan diri. Sedangkan dalam pengertian para ulama, kata iftiraaq berarti keluar (menyimpang) dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah pada satu pokok atau lebih dari pokok-pokok agama yang sudah baku dan pasti (qath’i), baik pada pokok-pokok ajaran aqidah atau pokok ajaran amaliyah yang berhubungan dengan hal-hal yang qath’i atau yang berhubungan dengan kemaslahatan besar umat ini atau yang berhubungan dengan keduanya sekaligus.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً، وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ اَ ريَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً، فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي، يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا، وَلَ يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا، وَلَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

“Siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah lalu ia mati, maka ia mati seperti kematian orang jahiliyah, dan siapa yang berperang di bawah panji yang tidak jelas, marah karena kesukuan atau mengajak kepada kesukuan atau menolong karena kesukuan lalu terbunuh maka ia terbunuh seperti terbunuhnya orang jahiliyah. Siapa yang memberontak dari umatku, memukul (membunuh) orang yang baik dan yang fajir dan tidak memperdulikan dari kemukminannya serta tidak menunaikan janjinya kepada orang yang dijanjikan maka ia bukan dariku dan aku lepas diri darinya.” (HR. Muslim no.1848)

Sebab Perpecahan

Sebab perpecahan ada banyak. Di antara sebab terbesar adalah sebagai berikut:

a) Tipu daya dan konspirasi musuhmusuh Islam

Baik yang menampakkan kekufurannya seperti Yahudi dan Salibis ataupun yang menampakkan keislaman dengan tujuan melemahkan kekuatan dan menumbuhkan perselisihan diantara kaum Muslimin. Hal ini telah diisyaratkan dalam hadits dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Nyaris sudah para umat-umat berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orangorang yang makan menghadapi bejana makanannya.” Lalu bertanya seseorang: “Apakah kami pada saat itu sedikit?”. Beliau menjawab:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللّه مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيُقْذِفَنَّ اللّه فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ

“Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuhmusuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan),” Lalu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?” Kata beliau: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no. 4297 dan shahih) 

b) Menambah dan mengurangi ajaran

Hal ini dilarang Allah dalam firmanNya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An-Nisa [4]: 171) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melarangnya dalam sabda beliau:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai sekalian manusia, hati-hatilah dari sikap berlebihan dalam agama, karena orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebihan dalam agama.” (HR. Ibnu Majah no. 3029 dan dinilai shahih Syaikh Al-Albani).

Hal itu karena agama ini dibangun diatas pengamalan hukum-hukum syari’at dengan memperhatikan kemudahan, meringankan kesulitan dan mengambil keringanan pada tempatnya serta prasangka baik kepada manusia dan kasih sayang kepada mereka. Tidak keluar dari hal-hal ini kecuali dengan mashlahat yang kuat dalam pandangan ulama.

c) Meniru dan mengekor kepada umat-umat terdahulu

Sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam sabda beliau, “Akan datang kepada umatku apa yang telah menimpa bani Isro’il sama persis, hingga bila ada dari mereka orang yang menzinahi ibunya terang-terangan, pasti akan ada pada umatku yang berbuat demikian. Sungguh bani Isro’il telah berpecah belah dalam tujuh puluh satu kelompok dan umat ini akan pecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok seluruhnya di neraka kecuali satu.” Mereka bertanya: “Siapakah ia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yang mengikuti ajaranku dan sahabat-sahabatku.” (HR. Al-Tirmidzi no. 2641 dan dinilai hasan Syaikh Al-Albani).

Imam Al-Ajuri menyatakan: “Seorang alim yang berakal yang membuka lembaran keadaan umat ini tentu mengetahui bahwa kebanyakan umat ini mengikuti Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani).” (As-Syari’ah hal. 20)

Solusi Keluar dari Perpecahan

Pertama, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bersatu di atas jamaah kaum Muslimin. Allahu berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4]: 59).

Kedua, memahami Al-Qur’an dan As- Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami generasi terbaik umat ini yaitu para Sahabat. Allah berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِي اً ر

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orangorang Mukmin (Muhajirin dan Anshar), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa [4]: 115)

Ketiga, menjadikan masjid sebagai benteng kaum Muslimin terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Allahua’lam.[]

About Admin

Check Also

Ketika Hawa Nafsu Menguasai Hati Manusia

Oleh Dr. Slamet Muliono Al-Qur’an di berbagai tempat menyebutkan bahwa hati manusia memiliki kecenderungan untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *