Home / Masjid / Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. Sehingga tentunya ada corak yang membedakan masjid di tiap negara. Seperti halnya yang terjadi di Kanada. Negeri utara Amerika ini memiliki kisah panjang dengan masjid tertuanya, Masjid Al Rashid.

Masjid yang bertempat di Taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park) ini, memiliki kisah yang panjang dimulai dari pembangunannya hingga sekarang ini. Lokasi masjid pertama di Kanada itu, saat ini tidak lagi bertempat di lokasi awal mula dibangunnya.

Bagi yang baru pertama kali mengunjungi masjid ini akan sempat ragu. Bangunannya justru lebih mirip gereja, ketimbang masjid. Memang pada awalnya, penduduk Kanada rata-rata beragama Kristen.

Bermula pada era kekuasaan Emperium Usamaniah (Otoman Empire) yang berpusat di Istanbul, Turki. Kala itu, diberlakukan wajib militer. Penduduk Suriah yang tak ingin, menghindar dan berpindah ke Negeri di Amerika Utara ini. Sebagian besar mereka adalah keturunan Arab, anak-anak muda dan beragama Nasrani.

Lalu di penghujung 1920-an, keluarga muslim menyebar di berbagai tempat di Alberta, Edmunton. Jumlah mereka tak terlalu banyak.Sensus penduduk di tahun 1931 tercatat 645 muslim diantara 10,070 warga Arab-Kanada. Sebagian besar dari mereka menetap di propinsi kawasan barat di Ontario dan Quebec.

Pembangunan Masjid Al-Rashid

Menjadi kebutuhan bagi umat muslim untuk beribadah. Termasuk bagi kaum muslimin Kota Alberta pada awal tahun 1930-an. Lantaran itulah, yang membuat mereka berinisiatif untuk mendirikan sebuah masjid sebagai pusat peribadatan mereka. Muncul pula seorang tokoh muslimah, Hilwi Hamdon. Ia menjadi penggerak dalam merealisasikan tujuan baik umat muslim Alberta.

Ia bersama temannya datang menemui Walikota, John Wesley Fry. Dengan tujuan untuk mendapatkan sebidang tanah untuk pembangunan masjid, Sempat terjadi ketegangan saat itu. Walikota yang merupakan keturunan imigran Arab-Kristen ini berujar, “Kalian tidak punya uang untuk membangun masjid”. Dengan cepat, Hilwi dan rekannya menjawab, “Kami akan dapatkan uangnya”.

John Wesley setuju dengan satu syarat. Agar tersedia dahulu dana yang cukup untuk pembangunan masjid itu, yang sekurang-kurangnya $ 5 ribu. Angka yang cukup fantastis pada masa krisis itu. Masyarakat muslim pun menggalang dana dengan menghampiri toko-toko yang ada. Hingga akhirnya, dana itu benar-benar terkumpul.

Mike Drewoth terpilih menjadi untuk mengarsiteki pembangunan masjid ini. Setelah serangkaian diskusi, Drewoth membuat sebuah rancangan masjid terbaik yang dia bisa, “Sebuah bangunan yang lebih mirip Gereja Ortodok Rusia dibandingkan sebuah bangunan masjid yang dikenal secara umum”.

Bentuknya, memanjang dengan pintu utama di salah satu sisinya lengkap dengan tangga. Dilengkapi ruang terbuka yang besar di dalamnya. Jendelanya dibentuk berlengkung. Terdapat dua ruang kecil tempat berwudhu dan ruang basement (bawah tanah) untuk kegiatan sosial.

Sementara di sisi kanan-kirinya, dibuatlah dua menara berdenah segi delapan dengan kubah bawang bewarna perak dipasangkan di atasnya. Lalu dipasang simbol bulan sabit dibagian puncaknya untuk menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah bangunan masjid, bukan gereja. Pembangunan masjid tersebut sudah selesai pada November 1938.

Pada tanggal 12 Desember 1938 Masjid Al-Rashid resmi dibuka oleh Walikota Edmunton John Wesley Fry dan Walikota Hanna, Alberta. I.F Shaker, yang juga seorang Kristen Arab. Ini pula yang menjadi momen yang merefleksikan keberagaman di Kanada.

Mengutip sambutan yang disampaikan oleh John Wesley Fry,“Sangat penting bahwa berbagai kalangan dari berbagai agama duduk bersama dengan sangat bersahabat satu dengan lainnya.”

Perpindahan Masjid

Lebih dari tiga dekade, masjid kecil tersebut menjadi pusat aktivitas komunitas muslim setempat, termasuk perayaan pernikahan, pemakaman, dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dilaksanakan di ruang utamanya.

Kemudian paska perang dunia kedua, pendatang membanjiri Kanada. Di tahun 1980 komunitas muslim di Edmunton mencapai 16 ribu jiwa. Ini membuat Masjid Al-Rashid tak lagi cukup. Hingga akhirnya, tahun 1982 bangunan lama Masjid Al-Rashid ditutup. Seluruh aktivitas keislaman dipindahkan. Lebih dari sepuluh tahun, bangunan masjid lama itu dibiarkan kosong terbengkalai ditempatnya

Suatu ketika, Rumah Sakit Royal Alexandra yang tepatnya bersebelahan dengan bangunan lama masjid ingin memperluas lahan parkirnya. Secara otomatis, ini menjadi ancaman untuk bangunan masjid yang sudah tak terpakai.

Komunitas muslim setempat memikirkan rencana untuk menyelamatkan bangunan tua tersebut. Yakni dengan cara memindahkannya ke lahan yang baru. Pada saat yang sama, Edmunton tak lagi memiliki area padang rumput yang cukup luas. Satu-satunya solusi, dengan memindahkannya ket taman bersejarah. Dan tentunya, penolakan berdatangan. Para muslimin tidak mundur, mereka menyatakan bahwa bangunan masjid itu merupakan salah satu bangunan bersejarah yang dimiliki oleh Kanada.

Namun ahirnya di tahun 1991, setelah tiga tahun menggalang dana dan membuat petisi, ahirnya atap bangunan lama Masjid Al-Rashid pun dibuka. Meski begitu, hampir setahun lamanya bangunan masjid tersebut berdiri di taman kota tanpa atap.

Pada tanggal 28 Mei 1992, proses restorasi selesai dilaksanakan dan bangunan masjid tua tersebut kembali dibuka dalam sebuah upacara yang penuh haru. Para pemimpin kota memberikan penghormatan yang mendalam kepada para muslimah yang dulu telah membangun masjid tersebut dan bagi para muslimah keturunannya yang kemudian menyelamatkan bangunan tersebut dari kehancuran.

Salah satu program kepemudaan terbaru di Masjid Al-Rashid yang cukup menarik adalah program yang mereka sebut sebagai Program Cahaya Jum’at Malam (Friday Night Light-FNL). Dimana setiap hari Jum’at antara pukul 6 hingga pukul 9 malam ini, para remaja laki laki muslim yang berumur antara 12 hingga 16 tahun diajak besama sama dalam acara yang bersuasana religius untuk menanamkan persaudaraan, spiritualitas, rasa hormat serta kebugaran fisik. (faz)

 

About Admin

Check Also

MENGHINDARKAN FITNAH DENGAN MENGIKUTI PETUNJUK

Oleh Dr. Slamet Muliono   Penggunaan akal yang proporsional dengan mau mendengarkan petunjuk merupakan jalan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *