Home / Uncategorized / Nikmatnya Ilmu

Nikmatnya Ilmu

Oleh: Dr. Ainul Haris

Jika engkau memberikan seluruh dirimu untuk ilmu, ilmu akan memberimu sebagian. Jika engkau berikan sebagian dirimu untuk ilmu, ilmu tak akan memberimu sesuatu
Ilmu adalah kehormatan yang tertinggi, pakaian kebesaran yang tak tertandingi, landasan peradaban, sumber kehebatan bangsa-bangsa, letak luhurnya kehidupan, pelopor kebahagiaan sejati, dan kemuliaan di dua negeri, duniawi dan ukhrawi.

Mahar Ilmu adalah Penderitaan
Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (194-256 H), penulis kitab Shahih Al-Bukhari yang sangat terkenal itu, mengisahkan bagaimana ia tetap asyik menikmati ilmu meski dalam kondisi yang sangat sulit. Imam Al-Bukhari menuturkan, saat ia belajar kepada gurunya, Adam bin Abi Iyyas di Asqalan, bekalnya terus menipis, hingga tak tersisa sedikitpun, sampai terpaksa ia makan rerumputan. (As-Subki, Thabaqatusy Syafiíyyah al-Kubra, II/227)
Kisah masa-masa belajar Imam Ahmad (164-241 H/780-855 M) —salah seorang dari imam empat mazhab yang dianut oleh kaum Muslimin— tidak kalah memilukan. Pada saat belajar kepada Abdurrazzaq Ash-Shanáni di Yaman, Imam Ahmad pernah menjadi imam shalat, namun ia lupa. Maka Imam Abdurrazzaq bertanya apa yang menyebabkannya lupa? Lalu Imam Ahmad menceritakan bahwa dirinya sudah sejak tiga hari tidak makan sama sekali. (Ibn Abi Ya’la Al-Hambali, Thabaqatul Hanabilah, I/97)

Kenikmatan mencari ilmu membuat para penuntut ilmu rela menderita dan hina. Sahabat Ibn Abbas rela tidur di depan pintu rumah Sahabat senior untuk mendengar langsung hadits yang didapatkannya dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rela wajah beliau penuh debu yang tertiup angin sampai sang guru keluar. Hal yang sama dilakukan oleh Sahabat Urwah bin Zubair di depan rumah salah seorang Sahabat Muhajirin, juga Abdullah bin Farukh Al-Qairuwani untuk bisa mendengarkan hadits dari Sulaiman bin Mahran Al-A’masy. (Qadhi Iyadh, Tartibul Madarik, III/110)

Imam Syafií (150-204 H) berpesan kepada para penuntut ilmu, “Seseorang tidak akan bisa meraih ilmu (agama) ini dan tidak akan beruntung, yaitu orang yang sombong dan suka berbangga diri. Tetapi barangsiapa yang mencarinya dengan kerendahan hati, penderitaan hidup dan bergaul dengan ulama maka ia akan beruntung.” Beliau juga berkata, “Ilmu tidak akan bisa diraih kecuali dengan bersabar di atas kehinaan.’’ (Imam Nawawi, Al-Majmu’, I/64)
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Manusia membutuhkan ilmu lebih banyak dari pada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena dalam sehari orang hanya butuh makan sekali atau dua kali. Sedangkan kebutuhan manusia kepada ilmu (agama) adalah sebanyak tarikan nafas.”

Semangat Harus Membara
Menuntut ilmu agama diperlukan semangat yang membara. Ibnul Jauzi (510-597 H) berkata, “Saya merenung dan kagum, sesuatu yang berharga jalannya pasti panjang dan berbahaya, sangat melelahkan untuk mencapainya. Sesungguhnya ilmu adalah sesuatu yang paling mulia. Tidak akan bisa diraih kecuali dengan kelelahan, tidak tidur (untuk belajar), mengulang-ulangi pelajaran, meninggalkan kelezatan dan santai.”

Seorang ahli fikih berkata, “Selama bertahun-tahun saya menginginkan haritsah (bubur yang dicampur daging), namun tidak bisa mendapatkannya, karena waktu dijualnya bersamaan dengan waktu mendengar kajian.” (Ibnul Jauzi, Shaidul Khathir)

Masruq bin Al-Ajda’, dia berkisah, “Saya telah mengelilingi dunia seluruhnya untuk mencari ilmu.” Padahal saat waktu itu belum ada mobil, kereta apalagi pesawat terbang. Perjalanan biasa dilakukan dengan berjalan kaki atau naik hewan tunggangan. (Abul Qa’qa’, 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara, eLBA, 2015, hal. 8)

Masa Belajar yang Lama
Menuntut ilmu agama sehingga menjadikan seseorang sebagai ulama memerlukan waktu yang sangat panjang. Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah (310-395 H) mengisahkan, dirinya keluar menuntut ilmu sejak usia 20 tahun dan baru kembali lagi ke kampung halamannya di usia 65 tahun. Jadi, Imam Muhammad bin Ishaq merantau menuntut ilmu selama 45 tahun.
Para ulama memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dalam menuntut ilmu. Sehingga Allah mewariskan ilmu para Nabi kepada mereka. Mereka menjaga agama ini melalui ilmu yang mereka tulis. Sebutlah misalnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M). Kesabaran Ibnu Taimiyah dalam menekuni ilmu diganjar dengan menghasilkan sekitar 330 judul karya tulis besar maupun kecil. Karya-karya Ibnu Taimiyah yang fenomenal tersebut di antaranya dihimpun di dalam kitab Majmu’ Fatawa yang terdiri dari 37 jilid.

Kemuliaan Ilmu
Ilmu agama memiliki keutamaan yang sangat istimewa. Seorang yang berilmu —tanpa memandang dari keluarga mana dia berasal— akan dimuliakan karena ilmunya.

Adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz (1910-1999 M), Mufti Besar Kerajaan Saudi yang dihormati para konglomerat, pejabat hingga raja Arab Saudi kala itu, patuh dan sangat memuliakannya. Padahal beliau seorang yang buta.
Sudah menjadi kebiasaan Syaikh Bin Baz untuk selalu makan bersama orang-orang miskin. Suatu ketika, ada pejabat kerajaan yang dijamu Syaikh Bin Baz untuk makan siang. Pejabat tersebut keberatan untuk makan bersama rakyat jelata. Maka dengan tegas Syaikh Bin Baz menolaknya, sehingga terpaksa pejabat kerajaan tersebut makan bersama rakyat jelata.
“Niscaya Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Jadilah Bagian dari Mereka
Tidaklah seseorang tergerak dan cinta untuk menuntut ilmu agama, kecuali karena Allah menghendaki kebaikan untuknya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya dia akan dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Siapapun memiliki peluang yang sama untuk menjadi manusia baik dan mulia melalui jalur ilmu agama. Mari bertawakkal dan ikhlaskan niat dan bersungguh-sungguh menempuh jalur kemuliaan dengan menuntut ilmu agama.[]

About Admin

Check Also

Kehadiran Masjid Tharfah Mendongkrak Program Sekolah

Sebuah Masjid berukuran 14 x 13 meter berdiri kokoh di atas tanah seluas 2.123 M2. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *