Home / Masjid / MENGHINDARKAN FITNAH DENGAN MENGIKUTI PETUNJUK

MENGHINDARKAN FITNAH DENGAN MENGIKUTI PETUNJUK

Oleh

Dr. Slamet Muliono

 

Penggunaan akal yang proporsional dengan mau mendengarkan petunjuk merupakan jalan untuk menghindarkan diri dari perbuatan syirik.

Al-Qur’an banyak menyebutkan sifat-sifat manusia yang saling kontradiktif. Di satu sisi manusia merasa kecil hati dan lemah tetapi di sisi lain merasa besar (sombong) dan kuat. Satu waktu merasa butuh Tuhan tetapi di waktu yang lain membuang jauh-jauh Tuhannya. Bahkan manusia menginginkan kebaikan dan jalan yang lurus, tetapi justru kenyataannya sering berbuat keburukan dan menempuh jalan kesesatan. Sifat kontradiktif itu dijelaskan oleh Allah di dalam firmanNya :

۞ وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepadaNya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmatNya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalanNya. Katakanlah: «Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (QS. Az-Zumar : 8).

Allah menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk lupa diri dan menyimpang. Musibah dan kesulitan yang dialami akan mengingatkan jalan yang benar dengan meminta pertolongan kepada Allah. Artinya, puncak kesulitan yang datang, hanya akan selesai jika mendekat dan meminta pertolongan kepada Allah. Namun kecenderungan manusia adalah melupakan Allah dan kembali mengulangi perbuatan sebelumnya dan melakukan kesalahan yang sama, yakni menjauhkan peran Allah dalam kehidupannya. Bahkan manusia justru melakukan kegiatan yang melanggar perintah Allah dengan melakukan kesyirikan.

Ketika melakukan perbuatan syirik dengan menyembah atau meminta kepada selain Allah, manusia membungkus atau berkilah bahwa perbuatan ini merupakan bentuk kecintaan kepada Allah. Padahal perbuatan merupakan bentuk kesyirikan yang nyata. Ketika seseorang meminta doa atau keselamatan kepada orang yang sudah mati, maka dia berkilah bahwa orang mati adalah orang shalih yang dekat dengan Allah, sehingga bisa membantu manusia yang hidup dengan menyampaikan hajatnya kepada Allah. Hal

ini diabadikan Allah dalam firmanNya :

۞أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar : 3).

Kesyirikan bukan dosa besar biasa tetapi dosa besar luar biasa. Dikatakan dosa yang luar biasa karena dosa ini tidak akan diampuni Allah. Kalau dosa besar biasa seperti berzina, membunuh disadari oleh pelakunya sebagai perbuatan maksiat, sehingga pelakunya berpotensi untuk bisa kembali ke jalan yang benar. Hal ini berbeda dengan pelaku syirik yang seringkali menganggap bahwa perbuatan itu dianggap benar dan telah mendatangkan manfaat yang besar bagi dirinya. Sedemikian besar dosa pelaku syirik, sehingga Allah tidak akan mengampuninya dan mengancam dengan azab yang besar.

Oleh karena itu, sangat berbahagia bagi siapapun yang terbebas dari perbuatan syirik dengan melakukan penyembahan kepada Allah saja. Allah memberi petunjuk kepada hambaNya yang dikehendaki karena menggunakan akal sehatnya, serta memberi kabar gembira terhadap siapapun yang terbebas dari thaghut, sebagaimana firmanNya :

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ

۞ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ ۞

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaKu. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orangorang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar : 17-18)

Penggunaan akal yang proporsional dengan mau mendengarkan petunjuk merupakan jalan untuk menghindarkan diri dari perbuatan syirik. Implikasi dari perbuatan syirik itu akan membebaskan dari siksa api Neraka. Sungguh pantas bagi Allah untuk menghukum hambaNya yang merendahkan keagungannya, dan sebaliknya, Allah sangat layak ketika memberikan tempat yang mulia bagi hambaNya yang mengagungkan dengan menyembah dan meminta hanya kepadaNya. Kunci untuk memperoleh keselamatan dan terhindar dari kesengsaraan adalah dengan mengikuti petunjuk dan menggunakan akal sehatnya.[]

Masajid | Edisi 6

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *