Home / Kajian Utama / MENGENAL EKONOM MASJID YANG SEJATI

MENGENAL EKONOM MASJID YANG SEJATI

KAJIAN UTAMA

Edisi 6 Tahun 2 Juli 2017 | Masajid

Oleh

Baidhawi 

 

Kekayaan didistribusikan untuk kemakmuran umat dan harus menambah ketaatan dalam beribadah.

Islam tidak hanya mengatur cara beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala tetapi juga mengatur cara mencari harta yang benar yang biasa disebut dengan ( الاقتصاد ) ekonomi’. Iqtishad sendiri secara bahasa artinya adalah seimbang, sederhana, dan pertengahan. Ekonomi disebut iqtishad karena pertengahan dalam kerja, yakni kekayaan dibangun di atas ikhtiar ala kadarnya tanpa melalaikan tujuan pokok sebagai seorang hamba, yaitu ibadah. Juga, disebut iqtishad karena pertengahan dalam keyakinan, yakni jika sudah mendapatkan harta maka ia meyakini bahwa harta tersebut bukan semata hasil kerja kerasnya tetapi murni karunia Allah. Juga, disebut iqtishad karena pertengahan dalam penggunaan, artinya tidak boros dan pelit. Al-Quran menyinggung lafazh iqtishad ini dalam beberapa ayat, di antaranya:

لَو كَان ع رَضَا قَرِيبا و سَفَر اً قَاصِدًا لَتَّبعوك

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang sederhana (tidak seberapa jauh), pastilah mereka mengikutimu.” (QS. At-Taubah [9]: 42). Juga firman Allah:

و اَقْصد في مشْيكَ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.” (QS. Luqman [31]: 19)

Juga, seperti yang dimaksud dengan qashdu sabil (lihat QS. Al-Nahl: 9) adalah memilih jalan terdekat yang baik dan tidak memberatkan. Oleh karena itu, iqtishad mencerminkan hal yang baik dalam memproduksi kekayaan dan mendistribusikannya untuk kemakmuran umat dan dengan biaya yang minimal baik materi maupun non materi. Berikut ini adalah penjabaran dari tiga unsur ini, beserta peran masjid yang terkait dengannya.

1) Pertengahan dalam kerja

Muslim yang baik adalah Muslim yang cerdas, di mana ia fokus kepada tujuan utama ia hidup yaitu ibadah. Adapun kerja dan hasilnya (upah) digunakannya sebagai wasilah (sarana) untuk menggapai tujuan (ibadah). Untuk itu Anda akan melihatnya, meskipun ia kerja tetapi ia tidak membabi buta dalam tenaga dan waktu, tetapi ala kadarnya, dan sisa waktunya ia gunakan di masjid. Kalaupun ia rajin kerja maka ia niatkan semua itu untuk mewujudkan impian Akhiratnya yang agung, seperti membiayai pembangunan pondok, masjid, panti asuhan, rumah janda, biaya pendidikan agama orang tidak mampu, menjalin silaturrahim, membiayai dai dan para khatib, dan seterusnya dari kebaikan agama.

2) Pertengahan dalam keyakinan

Termasuk keyakinan yang salah dari kebanyakan orang adalah kekayaan yang mereka miliki seperti rumah, mobil, bisnis, dan saham semua ini karena gelar dan hasil kerja kerasnya. Seolah-olah Allah tidak memiliki andil sedikitpun dalam kekayaannya. Allah Subhanahu Wata’ala amat murka kepada tipe pekerja seperti ini, sebab ucapan ini mirip dengan yang diucapkan Qarun yang dimurkai-Nya. Allah mengabarkan ucapan Qarun:

قَال إِنَّما أُوتيتُه علَى علْمٍ عنْد يِ

“Dia berkata, ‘Aku diberi semua ini (kekayaan) karena ilmu yang ada pada diriku.’” (QS. Al-Qashash [28]: 78). Kekayaan Qarun yang kunci-kunci gudangnya tidak sanggup dipikul orangorang kuat di zamannya ini, diperoleh dari hasil kerja kerasnya karena kepandaiannya dalam mencari rezeki. Begitulah persangkaannya. Ternyata ucapan yang sederhana ini dibenci Allah dan Dia pun menghukum Qarun di dunia sebelum di Akhirat:

فَخَسفْنَا بِه و بَِد اَرِه الَْ رضْ فَما كَان لَه من فئَة ينْصر وُنَه من د وُنِ الٰلِّ و مَا كَان من

الْمنْتَصرِينَ

“Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya (harta bendanya) ke dalam bumi. Tiada baginya kelompok apapun yang mampu menolongnya selain Allah, dan dia bukan termasuk orang-orang yang ditolong.” (QS. Al-Qashash [28]: 81). Ini menunjukkan bahwa harta adalah urusan Allah dan Dia membagi-baginya kepada siapa yang Dia kehendaki sejumlah berapa yang Dia inginkan. Allah berfirman:

أَهم يقْسمون ر حَمتَ ر بَك نَحن قَسمنَا بينَهم معيشَتَهم في الْحياة الد نُّْيا و رَ فََع نَْا بعضهم فَو قَْ بعضٍ د رَ جَاتٍ

“Apakah mereka yang membagi rahmat (harta) Tuhanmu? Kami-lah yang membagi kekayaan di antara mereka. Kami lebihkan sebagian atas sebagian yang lain”, (QS. Az-Zukhruf [43]: 32).

Ini berbeda dengan keyakinan ekonom Muslim di mana ia pertengahan dalam keyakinan, yakni tidak berpangku tangan dengan takdir dan tidak meyakini harta yang dimilikinya berasal dari kecerdasan dan kerajinannya dalam kerja. Akhirnya hal ini mendorongnya untuk fokus ibadah yang tidak ada jaminan untuknya, daripada fokus soal rezki yang sudah ada jaminannya.

3) Pertengahan dalam penggunaan

Mereka tidak boros dan tidak pula pelit. Mereka di antara dua tipe orang, yaitu di antara orang yang terlalu banyak dalam penggunaan materi sehingga mubazir dan di antara orang yang terlalu pelit mengeluarkan materi sehingga justru ia meyiksa diri dan keluarganya. Ini sebenarnya konsep dasar yang amat penting dalam ekonomi. Al-Quran menyebutkan:

و اَلَّذ يِن إِذَا أَنْفَقُوا لَم يسرِفُوا و لََم يقْتُر وُا

و كََان بين ذَلِك قَو اَما

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan [25]: 67).

Inilah tiga unsur penting dalam ekonomi yang sebenarnya, dan ini sekaligus menunjukkan ketinggian Islam, tidak sebagaimana agama dan kepercayaan lain yang salah dalam memahami ekonomi. Barat memahami ekonomi adalah memuaskan nafsu dan tidak peduli uang yang didapatkan haram atau haram, bahkan riba dan kezaliman adalah syarat mutlak bagi ekonomi mereka yang pada hakikatnya adalah sebuah kemiskinan, bukan kebahagiaan. Penjelasan ini sekaligus memperjalas kita bahwa ekonomi sangat terkait erat dengan masjid, ditinjau dari tujuan ekonomi yaitu ibadah dan kebahagiaan. Allahu a’lam.. []

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *