Home / Religi / Mengenal Apa Itu Sutrah

Mengenal Apa Itu Sutrah

Sutrah (سترة) artinya pembatas, maksudnya pembatas yang dipasang di depan orang shalat sebagai tanda tidak boleh ada yang melewatinya. Bentuk sutrah bebas asal memiliki panjang dan tinggi, seperti tembok, tiang masjid, punggung orang, tas, tongkat, pelana unta dan kuda, dan lain sebagainya.

Hukumnya: Sutrah hukumnya wajib tetapi shalat tetap sah tanpa sutrah. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ»

“Kamu jangan shalat kecuali menghadap sutrah.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 800 dan Ibnu Hibban no. 2362. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dan Syaikh al-Arnauth)

Sebagian ulama memahami perintah di sini adalah sunnah muakkad, seperti Syaikh Bin Baz rahimahullah.

Ukurannya: Ukuran sutrah yang baik adalah yang besar dan tinggi. Tinggi minimal sebesar pelana unta/kuda. Hal ini berdasarkan riwayat Musa bin Thalhah dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، وَلَا يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ»

“Apabila seorang dari kalian meletakkan pelana kendaraan di depannya hendaklah ia shalat dan tidak perlu pedulikan orang yang lewat di depannya (pelana).” (HR. Muslim no. 499)

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan bahwa sebenarnya ukuran tadi adalah ukuran pendekatan dan bukan ukuran pastinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dengan tinggi pelana. Padahal tinggi pelana itu macam-macam. Wallahu a’lam. (Al-Mughni III/82-83)

Jarak Sutrah dengan Orang Shalat: Jarak keduanya sekitar tinggi badannya sehingga memungkinkannya sujud dengan nyaman dan masih sisa sedikit seukuran kambing lewat. Hal ini berdasarkan riwayat dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu yang berkata, “Jarak tempat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tembok adalah selebar kambing bisa lewat (yakni saat sujud).” (HR. Al-Bukhari no. 496 dan Muslim no. 508)

Bila Ada yang Maksa Lewat: Bila ada yang bersikeras lewat baik manusia maupun hewan maka ia harus mencegahnya dengan tangannya meskipun mengakibatkannya banyak bergerak. Bila orang yang dilarang itu tetap besikeras maka kekuatan mencegahnya ditambah meskipun berakibat tidak enak hati, karena orang itu sedang terjangkiti setan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلْيَدْرَأْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ»

“Apabila seorang dari kalian shalat maka jangan biarkan seorang pun lewat di hadapannya dan hendaklah mencegah semampunya. Jika ia enggan maka perangilah karena sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 505)

Imam as-Suyuthi rahimahullah menjelaskan, “Makna setan di sini ada yang menjelaskan bahwa maknanya perbuatannya menyerupai setan karena setan jauh dari kebaikan dan menerima sunnah. Ada pula yang memaknainya bahwa yang dimaksud setan di sini adalah jin qarin yang menyertainya, berdasarkan riwayat hadist lain.” (Dalam Syarhus Suyuthi II/190)

Andai dia bersabar menunggu hingga shalatnya selesai kemudian baru lewat, tentu lebih baik baginya. Abu Juhaim radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ المَارُّ بَيْنَ يَدَيِ المُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ»

“Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui apa (dosa/ancaman) padanya, tentu dia berhenti selama 40 (hari/bulan/tahun) lebih baik baginya daripada lewat di hadapan orang shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 510 dan Muslim no. 507)

Hukum ini ada keringanan bagi anak kecil yang ikut ke masjid yang kebiasaan mereka suka berlari-lari di depan shaf shalat. Riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih al-Bukhari no. 493, ketika masih kecil dulu berjalan melewati shaf orang shalat yang diimami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi tidak dicegah dan dingkari oleh beliau dan para Sahabat.

Bila Kondisnya Menjadi Makmum: Sutrah wajib bagi orang yang shalat sendirian dan imam shalat. Sutrah makmum telah diwakili imam sehingga tidak perlu memasang lagi. Diriwayatkan Shahih al-Bukhari no. 501, kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengimami shalat di tempat terbuka beliau menancapkan tongkat sebagai sutrah dan tidak menyuruh Sahabat melakukannya.

Bila Masjid Sangat Besar: Terkadang seorang shalat di masjid besar lalu sutrahnya hilang (misal sutrahnya punggung orang di depannya), lantas apa yang harus dilakukannya? Dia maju/mundur/menyamping menuju sutrah terdekat. Namun, jika tidak memungkinkan atau dikhawatirkan gerakannya banyak sekali, maka yang bagus adalah diam di tempat. Ini mungkin saja terjadi di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Istiqlal Jakarta.

Bolehkah Sutrah dengan Garis Saja? Ini berdasarkan riwayat Imam Ibnu Majah no. 943 dalam Sunannya, “Jika salah seorang dari kalian shalat hendaklah meletakkan sesuatu di depannya, jika tidak mendapatkan sesuatu hendaklah menancapkan tongkat, dan jika tidak mendapatkan hendaklah membuat garis. Setelah itu tidak akan membahayakannya apa-apa yang melintas di depannya.”

Hanya saja hadits ini diperselisihkan keshahihannya. An-Nawawi dan Syaikh al-Albani menilainya lemah, sementara yang menilainya hasan adalah al-Hafizh Ibnu Hajar, Ibnu Hibban, Imam Ahmad, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Allahu a’lam.[]

 

Oleh: Nor Kandir

About Admin

Check Also

SANG ULAMA RABBANI

RUBRIK PROFIL DA’I 14 Masajid | Edisi Mei 2017   SANG ULAMA RABBANI   Dikenal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *