Home / Taushiyah / Menanam Kebaikan

Menanam Kebaikan

Seorang Muslim yang taat selalu menebar kebaikan. Maka merupakan fitnah keji jika Muslim yang taat diidentikkan dengan ektrimis dan teroris.”

Menanam kebaikan adalah amanah sekaligus prinsip hidup bagi setiap Muslim (QS. Al-Baqarah: 195). Kapan dan di mana pun seorang Muslim sejati selalu berbuat baik. Seorang Muslim tidak menunda-nunda kebaikan.  Waktu sesempit apapun adalah peluang baginya untuk berbuat baik. Selama masih hidup, selama itu pula ia selalu aktif berbuat baik. Bagi seorang Muslim, semangat berbuat baik adalah semangat hidup itu sendiri.

Sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu –hadits riwayat Al-Bukhari- pernah mendengar motivasi berbuat baik langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi menegaskan, andaipun terjadi Kiamat, seorang Muslim tetap harus menanam bibit pohon kurma, jika hal itu memungkinkan baginya. Allahu Akbar! Ini menegaskan,  seorang Muslim tidak boleh berhenti berbuat baik, meski dalam situasi sesulit apapun.

Kebaikan tidak mengenal besar kecil atau banyak dan sedikit. Kepada sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu –hadits riwayat Muslim- Nabi berpesan agar tidak meremehkan kebaikan, meski hanya dengan wajah berseri-seri saat berjumpa sesama.

Termasuk kebaikan  adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan.  Bagi sebagian orang, ini adalah hal yang sangat remeh, tapi ternyata pahalanya sangat besar.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan –hadits riwayat Muslim- bahwa beliau melihat seseorang yang leluasa menikmati Surga karena pohon yang ia tebang yang mengganggu jalan manusia.

Anjuran berbuat baik ini bersifat  universal, berbuat baik kepada semua orang, kepada Muslim dan non Muslim. Asal orang non Muslim itu tidak memusuhi atau memerangi kaum Muslimin (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Bahkan prinsip berbuat baik itu, tidak hanya kepada manusia, tetapi hingga kepada hewan dan alam semesta. Saat menyembelih misalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar sang jagal menajamkan pisaunya. Ketika berperang Nabi melarang untuk merusak tanaman dan pepohonan, menghancurkan rumah dan fasilitas umum, membunuh wanita, orang tua, dan anak-anak.

Tidak Berbuat Jahat

Prinsip kedua hidup seorang Muslim adalah jika ia tidak mampu berbuat baik, ia tidak mengganggu orang lain, baik secara fisik maupun ucapan yang menyakitkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk Surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)

Bukan sekedar tidak berbuat jahat, seorang Muslim bahkan menjauhi hal-hal yang sia-sia dan tidak memberi manfaat. Sedangkan Muslim terbaik dalam standar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah  yang keberadaannya selalu memberi kebaikan dan orang merasa aman dari gangguannya. Adapun  Muslim paling buruk adalah jika orang tidak bisa berharap kebaikan apapun darinya dan orang merasa tidak aman dari gangguannya (Shahih Jami’).

Masyarakat Aman

Jika dua prinsip hidup bermasyarakat itu dijalankan, yaitu selalu berbuat baik dan menahan diri dari berbuat jahat maka masyarakat akan menjadi aman tentram. Tidak ada kriminalitas dan kejahatan. Karena anggota masyarakat tidak ada yang merugikan orang lain, apalagi merugikan masyarakat banyak, seperti korupsi dan sebagainya. Masyarakat akan rukun, damai dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Jika kedua prinsip dijalankan di atas landasan iman dan takwa,  Allah akan membukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi, sehingga semua akan merasakan kesejahteraan dan kemakmuran. (QS. Al-A’raf : 96)

Pertanyaannya, apakah dua prinsip hidup itu –selalu berbuat baik dan tidak berbuat jahat- telah kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari? Mari kita mulai latihan hari ini. Kita jadikan hari ini sebagai hari berbuat baik, sekaligus hari tanpa keburukan dan kejahatan.

Kita  mulai hari kita dengan shalat Shubuh berjamaah, membaca al-Qur’an, berdzikir pagi dan petang, berbakti kepada orangtua, silaturahim, menolong orang yang susah, memaafkan orang yang bersalah, tinggalkan orang yang mengajak ghibah (menggunjing) orang lain, hentikan menonton telivisi atau lainnya yang tidak bermanfaat, termasuk nyanyian atau musik yang bisa melalaikan, balaslah orang yang menfitnah dengan kebaikan, dan seterusnya.

Jika demikian insya Allah hidup kita akan senantiasa diliputi kebaikan dari hari ke hari. Karena kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain, sebagaimana keburukan akan melahirkan keburukan yang lain. Mari selalu berbuat baik, untuk kebaikan kita di dunia dan di Akhirat, Insya Allah.[]

Oleh: Dr. Ainul Haris

About Admin

Check Also

Membiasakan “Iqra’”

Bangsa yang gemar membaca adalah bangsa yang berperadaban. Bangsa yang malas membaca adalah bangsa yang  …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *