Home / Taushiyah / Membiasakan “Iqra’”

Membiasakan “Iqra’”

Bangsa yang gemar membaca adalah bangsa yang berperadaban. Bangsa yang malas membaca adalah bangsa yang  terbelakang

Karena  iqra’ (bacalah!; membaca), seorang anak —dengan ijin Allah— sejak di bangku TK tidak doyan main game, nonton sinetron, bola, acara selebriti atau yang sejenisnya. Sebaliknya, ia justru “dimarahi” oleh orang tuanya agar segera tidur, karena malam-malam ia masih asyik membaca. Dari kebiasaan iqra’ seorang yang berasal dari keluarga miskin di lereng gunung —dengan ijin Allah—  bisa menjadi ulama, pemimpin, konglomerat, pejabat, atau kemapanan lainnya.

Mengubah Dunia

Iqra’ adalah sebuah aktifitas yang manfaatnya sangat dahsyat. Ia tidak saja mengubah keadaan seseorang, tetapi bisa mengubah keadaan sebuah negara bahkan dunia. Negara yang maju dipastikan mayoritas warganya gemar membaca. Adapun negara yang terbelakang dipastikan mayoritas warganya malas membaca, atau bahkan buta huruf. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika wahyu dan ajaran Islam yang pertama turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah membaca, iqra’.

Konsep hidup seorang Muslim dengan demikian adalah dimulai dari iqra’. Di dalam iqra’ terkandung pesan kuat agar seseorang berilmu terlebih dahulu sebelum beramal atau beraktifitas. Islam mengecam keras terhadap aktifitas  apapun yang tidak dilandasi ilmu. Allah berfirman, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Bahaya Malas Membaca

Karena malas membaca, banyak umat Islam —dari masalah yang kecil hingga masalah yang besar, bahkan dalam urusan agama— hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui landasan ilmu dan dalilnya. Akibatnya, banyak umat Islam yang tidak mengetahui tuntunan dan ajaran Nabinya.

Menghargai Ilmu

Barat mengalami masa-masa kegelapan (Dark Ages) selama lebih dari seribu tahun. Yaitu dari kejatuhan Romawi tahun 476 hingga masa Renaisans (kelahiran kembali budaya Yunani dan Romawi Purba tahun 1500-an). Pada tahun 610 Nabi Muhammad SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM diutus menjadi Nabi dan Rasul dengan diawali kalimat iqra’. Islam dengan demikian identik dengan agama yang berdasarkan ilmu, bukan tradisi nenek moyang. Tradisi keilmuan tersebut terus dipelihara dan berkembang pesat di tengah kaum Muslimin, semenjak abad ketujuh di masa Khulafaur Rasyidin, lalu Daulah Umayyah hingga kekuasaan Daulah Abbasiyah yang berakhir pada tahun 1258. Pada masa-masa kegelapan Barat, justru umat Islam selama sekitar tujuh abad mengalami puncak kemajuan dan peradabannya. Dan semua berawal dari semangat ïqra’’’.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah, misalnya, aktifitas iqra’ —sebagai bentuk motivasi mencari ilmu— mendapatkan penghargaan begitu sangat tinggi. Seseorang yang memiliki karya buku dihargai oleh sang khalifah dengan emas seberat timbangan buku yang ditulisnya.

Memulai dari Iqra’

Satu hal prinsip dalam wacana ilmu menurut pandangan Islam adalah ilmu itu tidak bebas nilai. Ilmu yang mengangkat derajat pemiliknya adalah ilmu yang dilandasi dan dibarengi iman. Allah berfirman, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan yang berilmu dengan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Maka, jika umat Islam ingin maju sebagaimana di masa lalu, semua harus memulai dari ‘iqra’. Membangun kebiasaan dan cinta membaca. Aktifitas iqra’ pertama-tama —sebagai landasan iman dan keilmuan— harus dimulai dari kitab suci Al-Qur’an. Setiap Muslim wajib membaca al-Qur’an setiap harinya, membaca terjemahnya, dan merenungkan maknanya.  Selanjutnya, menekuni bacaan sesuai dengan disiplin ilmu, kompetensi, dan keahliannya.

Agar Gemar Membaca

Kecintaan membaca ini harus ditanamkan secara kontinyu dan terus-menerus terhadap anak-anak sejak usia 6 bulan hingga usia 12 tahun. Banyak metode yang dipergunakan untuk membangun reading habit (kebiasaan membaca) pada rentang usia tersebut, di antaranya metode pattern dan phonics.  Jika pada masa usia kritis tersebut orang tua berhasil membangun kebiasaan membaca untuk anak-anaknya maka anak-anak itu tidak perlu lagi dipaksa-paksa untuk membaca dan menelaah. Pada usia-usia selanjutnya mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang “gila membaca” dan “gila ilmu”.

Anak yang “gila membaca” ke mana-mana akan membawa buku dan membacanya. Anak yang “gila membaca” akan terus menjaga waktunya. Ia akan menyesal jika pada suatu harinya tidak sempat membaca buku. Seiring dengan kematangan intelektualnya, ia pun akan selektif memilih bacaan, khususnya bacaan agama. Ia akan memilih bacaan yang bermanfaat, khususnya buku-buku agama sesuai dengan manhaj (metode pemahaman) Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Semoga iqra’ menjadi kebiasaan kita, anak-anak dan segenap kaum muslimin, untuk kembali meraih kemajuan dan peradaban Islam.[]

Oleh: Dr. Ainul Haris

About Admin

Check Also

Menanam Kebaikan

“Seorang Muslim yang taat selalu menebar kebaikan. Maka merupakan fitnah keji jika Muslim yang taat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *