Home / Lensa Dunia / Internasional / Masjidil Aqsha: Aksi Intifadhah Babak Baru

Masjidil Aqsha: Aksi Intifadhah Babak Baru

“Membela Al-Aqsha adalah kemuliaan kita,” Ujar Muhammad Halabi (19 tahun)

Situasi memanas terjadi di seluruh kawasan terjajah Tepi Barat di Palestina yang hampir sebulan. Semua warga kawasan terdekat Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha), terjajah, tiba-tiba menggeliat.

Pemuda, wanita hingga anak-anak bergerak, membawa batu, ketapel, bom-bom molotov hingga bersenjatakan pisau melawan Israel.

“Intifadhah Al-Quds” menggeliat akhir bulan September, tepatnya Selasa (29/09/2015) di mana seluruh warga di propinsi Tepi Barat, ambil bagian dalam solidaritas membela Masjid al Aqsha yang saat ini sedang mengalami konspirasi ‘pembagian waktu dan tempat’ sebagaimana dirancang penjajah Zionis.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya penjajah Zionis menyiapkan dua strategi ‘melenyapkan’ Masjidil Aqsha secara waktu (at taqsim az zamany), di mana mereka ingin membagi waktu tertentu untuk ibadah Yahudi dan di waktu lain untuk ibadah kaum Muslimin.

Sikap inilah yang melahirkan perlawanan para murabithun (para pemuda-pemuda Muslim yang berjaga-jaga) membela kemuliaan Masjidil Aqsha. Bersenjatakan batu, balok dan kayu menghalau tentara penjajah yang menodai masjid Al Aqsha.

Aksi makin panas ketika terbunuhnya seorang perwira Israel dari kesatuan elit militer bersama isterinya hari Kamis (01/10/2015) di perlintasan Bet Furik, Nablus Timur, Tepi Barat Utara oleh penembak gelap.

Padahal, di saat yang sama, Presiden Otoritas Palestina dukungan Israel dan Amerika, Mahmud Abbas menangis haru hanya karena bendera Palestina boleh berkibar di Markas Besar PBB di New York.

Gerakan terus menggelinding hinga kota-kota Palestina terjajah lainnya, termasuk di wilayah mayoritas pemukim Yahudi di Jerusalem Timur.

Gadis-gadis di Ramalah meliburkan diri dari perkuliahan. Menggunakan penutup wajah (kafiyeh) mereka melempar tentara Israel dengan batu dan bom-bom molotov.

Aksi keberanian pemuda-pemudi Palestina melahirkan dukungan para ulama. Sekjen Persatuan Ulama Dunia, Syeikh Dr. Ali Al Qurodaghi mengatakan dalam akun twitter @aliqaradaghi: “Wanita-Wanita merdeka ini mempertahankan harga diri umat. Oleh karenanya mereka membunuh atau dibunuh (bertempur),” ujarnya.

Aksi perlawanan rakyat Palestina kali ini berbeda dengan aksi-aksi perlawanan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan belum pernah terpikir oleh penjajah Israel. Anak-anak muda Palestina melakukan penusukan tentara-tentara Israel, menabrakkan mobil atau bus ke warga pemukim Yahudi, hatta, mereka harus kehilangan nyawa.

Salah satu contohnya adalah Muhammad Halabi (19 th). Ia menusuk 2 warga pemukim Yahudi Israel hingga tewas di kawasan Al-Quds. “Membela Al-Aqsha adalah kemuliaan kita,” ujarnya dalam sebuah postingan dalam akun Facebooknya.

Saat berita ini ditulis, lebih dari 30 pemuda-pemuda Palestina telah gugur akibat aksi penikaman di Intifada al-Quds. Lebih 1300 warga lain terluka oleh Israel.

Para ulama lain angkat bicara: “Apa yang sulit dan sempit maka Allah akan berikan jalan keluar. Allah yang maha mengabulkan doa sangat dekat,” ujar ulama Saudi, Syeikh Aidh al-Qarni, yang juga dikenal sebagai penulis buku La Tahzan.

Kepanikan makin melanda ‘Israel’. Maraknya penikaman, membuat Perdana Menteri Benyamin Netanyahu membatalkan beberapa kunjungan ke Eropa.

Sektor ekonomi dan pariwisata Israel mengalami kerugian luar biasa, transaksi bursa efek Tel Aviv dikabarkan rontok.

“Hari yang menakutkan di Israel…4 operasi serangan dalam 2 jam,” demikian bunyi Koran Israel Ha’aretz.

Kepanikan juga nampak pada para pemimpin politik negeri penjajah tersebut. Menlu 'Israel' Avigdor Lieberman tiba-tiba mengusulkan agar membuang jasa pejuang Palestina yang melakukan penikaman penduduk dan tentara Israel ke laut, tidak mengembalikan pada keluarganya.

“Biarkan (jasad) mereka (dimakan) anjing!” demikian tiru Israel Bramson, Wali Kota Kiryat Arba yang juga diikuti Itamar Ben Gvir, juru bicara Partai Jewish National.

Yang tak kalah mengejutkan, beberapa hari setelah itu, situs informasi Israel WaLLa edisi Kamis (15/10/2015) memuat “fatwa” Rabi Yahudi bolehnya membunuh pejuang Palestina yang tertangkap.

“Bukan sekedar dibolehkan, tetapi merupakan kewajiban agama, memegang kepala dan memukulnya sampai mati,” ujar Rabi Ben Tzion Motsavi.

Bagaimanapun kejamnya Israel dan kompaknya Barat berusaha menodai Masjidil Aqsha, mereka lupa, senjata-senjata dan tekanan dunia tidak akan pernah menghilangkan perlawanan dan kecintaan umat Islam sedunia pada kiblat pertama umat Islam tersebut.

“Saya katakan kepada penjajah Zionis: Apakah kalian mengira berhasil mengadu domba negara-negara kaum Muslimin? Camkan baik-baik! Miliaran hati kaum Muslimin di seluruh dunia itu terpaut cinta kepada Masjid Al-Aqsha yang mulia,” ujar Syeikh Al Azhar, Dr. Ahmad Tayyib bulan lalu.

Masalahnya, siapakah kelak yang akan dipanggil Allah sebagai bagian pembelanya? Mungkinkan kita salah satu yang masuk di dalamnnya? []kho

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *