Home / Lensa Dunia / Akhbar Masjid / Masjid Unik, Dibangun dengan Bahan Lumpur dan Kayu

Masjid Unik, Dibangun dengan Bahan Lumpur dan Kayu

Pada dasarnya tanah itu hukumnya suci dan seluruh permukaannya adalah tempat yang dibolehkan untuk shalat, baik dengan menggunakan alas semacam sajadah atau pun tanpa sajadah.

Sebagai tempat beribadah umat Muslim, masjid harus memiliki beberapa kriteria diantaranya suci dari najis dan menampung banyak orang. Islam hanya melarang beberapa tempat yang dilarang untuk digunakan sebagai tempat shalat, di antaranya tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, dan di atas (bangunan) Ka'bah.

Di masa awal mula berdirinya, Masjid Nabawi di Kota Madinah tidak memiliki alas pada lantainya, sehingga para shahabat shalat di atas tanah atau pasir.

Seiring perjalanan waktu, masjid-masjid berkembang sebagaimana kita lihat sekarang ini. Ribuan —bahkan— puluhan ribu masjid berlomba-lomba didesain dengan arsitektur unik dan menakjubkan. Dibangun dari bahan-bahan kuat. Dari semen, beton, dan marmer yang mahal. Tapi, ada beberapa masjid yang justru dibuat dari bahan sederhana, lumpur dan kayu.

  1. Masjid Sankore, Timbuktu

Masjid Sankore terletak di Negara Mali, tepatnya di Kota Timbuktu. Dibangun awal abad 15 M pada akhir kejayaan Kerajaan Mali. Masjid ini dulunya sebagai pusat pengajaran ilmu agama di Timbuktu. Bentuknya yang unik membuat masjid ini terkenal di seluruh dunia. Masjid Sankore merupakan satu dari tiga masjid pusat pembelajaran kuno di Timbuktu.

Di tahun 1324, masa pemerintahan Kaisar Mansa Musa Kankou, Masjid Sankore ditetapkan menjadi masjid agung pertama disusul pembangunan Masjid Djinguereber tiga tahun berikutnya. Peletakan batu pertama diawali oleh perintah hakim ketua kota, Al-Qadi Aqib bin Mahmud bin Umar.

Saat ini Masjid Sankore sudah menjadi pusat pendidikan kelas dunia dan bangunan berdiri tepat menghadap ke Ka’bah di Makkah.

  1. Masjid Djingareyber, Timbuktu

Masjid Djingareyber dibangun oleh Sultan Kankan Moussa pada 1327 setelah kembali dari ziarah ke Makkah (tahun 1570 dan 1583). Masjid ini merupakan salah satu dari tiga masjid terbesar di kota Timbuktu dan merupakan pusat studi yang terkenal di Mali. Selain dari batu kapur, seluruh bangunan masjid terbuat dari tanah dan bahan-bahan organik seperti serabut, jerami, dan kayu.

Masjid ini memiliki tiga lapangan, dua menara dan 25 pilar yang saling berhadapan di timur dan barat, serta ruangan shalat yang dapat menampung 2.000 jamaah. Konstruksi masjid Djingarei dibangun dari batu bata lumpur dan kayu merupakan arsitektur khas Sudano-Sahel. Djingareyber adalah salah satu dari tiga madrasah yang merupakan bagian dari Universitas Sankore.

Masjid ini tercatat dalam daftar situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1988. Masjid-masjid di Timbuktu adalah peninggalan sejarah dunia. Menurut catatan sejarah, Timbuktu pernah menjadi pusat pendidikan Islam bertempat di tiga masjid besar yang dibangun pada abad ke-15 dan ke-16.

  1. Masjid Larabanga, Republik Ghana

Masjid Larabanga adalah masjid bersejarah berarsitektural Sudan di kampung Larabanga, Republik Ghana, Benua Afrika. Sebuah masjid tua terbuat dari lumpur khas benua Afrika yang masih eksis hingga kini. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid tertua di Ghana dan kawasan Afrika Barat. Lokasi Masjid Larabanga ini terletak di Sawla Damongo Road, Larabanga.

Larabanga merupakan sebuah kampung Muslim di dekat Damongo di distrik Western Gonja, Wilayah Northern Region. Masjid Larabanga menjadi salah satu dari beberapa masjid-masjid menakjubkan khas Afrika yang terbuat dari lumpur, menambah khasanah seni bangunan masjid di dunia Islam.

  1. Masjid Raya Agadez, Nigeria

Masjid Raya Agadez dibangun dari lumpur dan potongan-potongan kayu. Terletak di daerah Air Massif di tengah-tengah Negara Nigeria. Dibangun pada awal abad ke-16, masjid ini mempunyai menara setinggi 30 meter dengan bentuk unik, yang merupakan menara bersejarah dan paling terkenal di Afrika sub-Sahara.

Masjid Raya Agadez merupakan sebuah arsitektur masjid yang luar biasa, terbuat dari batu bata yang dicampur tanah liat. Bahan dari bangunan yang menggunakan batu bata yang tercampur dengan tanah liat.

  1. Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso

Di kota Bobo Dioulasso, kota terbesar kedua di Burkina Faso setelah kota Ouagadogou, Afrika, terdapat sebuah masjid tua yang dibangun dari lumpur khas Afrika.

Masjid Tua Bobo Dioulasso atau dalam bahasa Prancisnya disebut Grande Mosquée de Dioulassoba (Masjid Jami’ Dioulasso), adalah masjid kuno yang bercirikan arsitektur Banco Sudaness. Merupakan warisan dari abad ke 19.

Dibangun pada tahun 1880 dengan gaya Sahel lengkap dengan dua menaranya masing-masing di sisi mihrab dan pintu masuk utama.

Seperti masjid unik lainnya di Afrikan, Masjid Jami’ Bobo Doulasso juga dilengkapi dengan potongan kayu yang menyembul keluar dari dinding lumpur.

  1. Masjid Raya Djenné, Afrika Barat

Masjid Raya Djenné adalah bangunan dari lumpur terbesar di dunia dan dianggap oleh banyak arsitek sebagai gaya arsitektur Sudano-Sahelian terbaik. Masjid ini terletak di kota Djenné, Mali, di dekat Sungai Bani. Terletak di kota Djenne, Republik Mali di Afrika Barat, yang merupakan bagian koloni Prancis.

Masjid Raya Djenné dibangun Ismaila Traore, seorang Muslim, arsitek dan juga koki. Dinding Masjid yang dibangun di atas tanah seluas 5.625 meter persegi ini terbuat dari bata lumpur yang dijemur di bawah matahari (disebut ferey) sedang bagian luarnya diplester dengan lumpur yang lembut.

Ketebalan dinding antara 41 cm dan 61 cm, bervariasi sesuai ketinggian tembok, yaitu bagian lebih tinggi dibangun lebih tebal karena dasar harus cukup lebar untuk mendukung berat. Beberapa batang pohon kelapa dimasukkan dalam tembok bangunan untuk mengurangi proses peretakan akibat kelembaban dan suhu. Menggunakan lumpur sebagai bahan baku pembangunan jelas mendatangkan kelebihan dan juga kekurangan.[]Kholis

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *