Home / Kajian Utama / Masjid Sebagai Pusat Kaderisasi

Masjid Sebagai Pusat Kaderisasi

“Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak di antara kaum Muslimin tidur di serambi masjid dan mengikuti seluruh aktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Inilah para ahlus shuffah.”

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masjid merupakan pusat kegiatan untuk  membentuk kader Islam yang unggul: unggul dari sisi aqidah, syariah, dan muamalah. Lewat masjid itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun dan membentuk masyarakat dengan aqidah yang benar dan menggerakkan masyarakat untuk menguatkan barisan guna menghadapi kekuatan luar yang terus menggerogoti kekuatan kaum Muslimin.

Masjid di Era Nabi: Sebagai Pusat Perjuangan

Kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Muhajirin di Madinah disambut luar biasa oleh sahabat Anshar. Bahkan saat Nabi datang bersama untanya, para sahabat Anshar menawari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk singgah dan mampir untuk dimuliakan sebagai tamu istimewa. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat untuk membiarkan unta ini berhenti sesuai kehendaknya. Di tempat berhentinya unta itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun masjid dan memusatkan perhatiannya untuk mengkader para pejuang besar dan mulia.

Di Masjid itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempah aqidah, syariat, dan muamalah para sahabat. Dukungan para sahabat yang memiliki harta dalam menopang dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam menegakkan ajaran Islam begitu besar. Perjuangan para sahabat yang tidak dikaruniai harta juga tidak kalah hebat pengorbanannya.

Bahkan banyak di antara mereka yang tidur di serambi masjid dan mengikuti seluruh aktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Mereka inilah yang disebut sebagai ahlus shuffah, yakni orang-orang miskin yang hidupnya di Masjid Nabawi dan dibiayai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari mereka inilah banyak tersebar perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membimbing mereka.

Berkat jasa merekalah terekam ucapan dan perkataan emas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang nantinya akan menjadi rujukan para ulama dalam mengkaji Islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil mengumpulkan seluruh potensi yang dimiliki para shahabatnya dan kemudian menggerakkannya untuk kepentingan Islam. Dari dalam Masjid itu, Nabi mengajarkan bagaimana memakmurkan masjid, mengajarkan wajibnya laki-laki menjalankan dan menegakkan shalat lima waktu secara berjamaah, pendidikan aqidah, mengajarkan hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala hingga perang.

Aktivitas yang ditempah dari masjid itulah lahir para shahabat yang memiliki kualifikasi yang menonjol, termasuk ahlus shuffah. Ada shahabat yang mengetahui tentang fitnah akhir zaman (Hudzaifah Ibnul Yaman), yang pakar halal haram (Muadz bin Jabal), yang pakar hukum waris (Zaid bin Tsabit), yang pakar tafsir (‘Abdullah bin ‘Abbas), panglima perang yang tangguh (Khalid bin Walid), saudagar kaya raya yang menginfaqkan hartanya (‘Utsman bin ‘Affan), ahli diplomasi (‘Amr bin ‘Ash) dan lain-lain.

 Masjid Era Modern: Fungsi Asesoris dan Rekreatif

Merujuk kepada apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pada akhir zaman nanti, umat manusia akan berlomba-lomba mendirikan masjid. Masjid-masjid sangat kokoh, indah, dan menawan bagi siapapun yang melihatnya. Namun aktivitas masjid itu sangat minim. Fungsi masjid tidak lebih dari asesoris (hiasan) dan rekreatif (tempat wisata). Dikatakan asesoris karena masjid didirikan dan dibangun penuh dengan nilai seni dengan model dan warna yang sangat menarik. Bahkan pembangunan masjid bisa menghabiskan dana yang sangat fantastis karena bahan-bahan dan aneka ragam atribut masjid yang demikian unik dan mahal. Dikatakan rekreatif karena masjid dibangun untuk kepentingan melepas kepenatan dan kelelahan setelah melakukan kegiatan atau perjalanan yang jauh. Bahkan masjid dipenuhi dengan aktivitas yang bernuansa ekonomis sehingga menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan area masjid sebagai tempat perdagangan. Disini fungsi masjid sudah berbeda dengan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan adanya tiga fungsi masjid (asesoris-rekreatif-ekonomis), maka masjid sudah mengalami pergeseran makna. Masjid sudah bukan lagi murni sebagai tempat ibadah dan menggerakkan masyarakat untuk mewujudkan peradaban Islam yang unggul tetapi lebih banyak untuk kepentingan duniawi. Dalam konteks ini, masyarakat tergerak ke masjid lebih banyak didorong dan didominasi kepentingan dunia, dan lebih kecil kepentingan akherat. Maka disinilah fungsi masjid mengalami pergeseran.

Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor. Salah satu di antara faktor itu adalah rendahnya pengetahuan dan wawasan agama anggota masyarakat ini. Rendahnya pengetahuan dan wawasan agama ini disebabkan begitu rendahnya minat masyarakat dalam menempuh jenjang pendidikan jurusan agama. Masyarakat lebih tertarik pada jurusan-jurusan yang berorientasi kerja untuk memperoleh pendapatan yang menjanjikan. Sementara jurusan berbasis agama dianggap kurang memberikan arah yang jelas dalam menopang kehidupan, dan bahkan kurang bergengsi. Disinilah makna bahwa masjid menjadi kurang diminati.

Situasi yang demikian ini tentu sangat memprihatinkan, khususnya bagi ormas keagamaan yang memiliki amal usaha seperti masjid, lembaga pendidikan, rumah sakit serta usaha-usaha lain yang membutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dan kecakapan agama. Pada saat yang sama, rendahnya moralitas dan terus meningkatnya kriminalitas maka menunjukkan rendahnya akhlak generasi saat ini. Maka di sinilah puncak kegelisahan masyarakat saat ini. Jalan keluar untuk mengatasi masalah ini adalah mengembalikan fungsi masjid sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[]

Oleh: Dr. Slamet Muliono

About Admin

Check Also

MASJID DAN SOLUSI PERPECAHAN UMAT

Kajian Utama Oleh Dr. Slamet Muliono, M.SI   Bersama-sama memakmurkan masjid, bisa menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *