Home / Masjid / Masjid Nabawi, Masjid Kedua yang Dibangun Nabi

Masjid Nabawi, Masjid Kedua yang Dibangun Nabi

"Satu kali shalat di masjidku (Masjid Nabawi) ini, lebih besar pahalanya daripada 1.000 shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram."

(HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Ibu Kota Pertama

Sejarah berdirinya Masjid Nabawi tidak lepas dari Kota Madinah atau juga disebut dengan Madinatur Rasul (Kota Rasul). Selain itu, Madinah biasa juga disebut dengan Madinah Nabawiyyah (Kota Nabi). Belakangan juga disebut Al-Madinah Al-Munawwarah.

Di kota ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun masjid kedua setelah Masjid Quba. Pembangunannya dimulai pada bulan Rabiul Awal setibanya Nabi setelah hijrah dari Makkah.

Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah untuk dibangunkan masjid dan tempat kediamannya.

Pada awalnya, panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 meter dan lebarnya 30 meter. Berbeda jauh kondisinya yang berkembang sangat megah saat ini. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Bagian-Bagian Masjid

Pertama, Raudhah.

Raudhah adalah suatu tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara mimbar beliau dengan kamar (rumah) beliau. Rasulullah menerangkan tentang keutamaan raudhah. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman Surga. Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua, Shufah Masjid Nabawi

Setelah kiblat berpindah (dari Masjid al-Aqsha mengarah ke Ka’bah di Masjid al-Haram), Rasulullah mengajak para Sahabatnya membangun atap masjid sebagai pelindung bagi para sahabat yang tinggal di Masjid Nabawi.

Mereka adalah orang-orang yang hijrah dari berbagai penjuru negeri menuju Madinah untuk memeluk Islam akan tetapi mereka tidak memiliki kerabat di Madinah untuk tinggal di sana dan belum memiliki kemampuan finasial untuk membangun rumah sendiri. Mereka ini dikenal dengan ashhabu shufah.

Ketiga, Rumah Nabi

Terlalu berlebihan untuk menggambarkan kediaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih tepat kalau disebut kamar. Kamar Nabi yang berdekatan dengan Masjid Nabawi adalah kamar beliau bersama ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Keempat, Makam Nabi dan Sahabat

Di tempat ini pulalah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berserta para sahabatnya: Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar Ibnu Khattab berada.

Berkenaan dengan kuburan di dalam masjid, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar melarang keras hingga beliau melaknat pelakunya meski saat itu beliau dengan sakit keras. Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sakit yang menyebabkan beliau meninggal:

«لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا»، قَالَتْ: وَلَوْلاَ ذَلِكَ لَأَبْرَزُوا قَبْرَهُ غَيْرَ أَنِّي أَخْشَى أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

“Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashara yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.” ‘Aisyah berkata, “Seandainya bukan karena larangan ini, pasti orang-orang sudah menampakkan kubur beliau. Hanya saja (tidak kami lakukan) karena takut kelak dijadikan masjid.” (HR. Al-Bukhari no. 1330 dan Muslim no. 529)

‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakaratul maut, beliau meletakkan kain di mukanya, dan bila merasa panas dibuka, tiba-tiba dalam keadaan begitu beliau bersabda:

«لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»

‘Laknat Allah semoga atas orang Yahudi dan Nashara karena mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.’ Beliau memperingatkan (ummatnya) jangan sampai berbuat sedemikian. (HR. Al-Bukhari no. 3453 dan Muslim no. 531)

Adapun keberadaan kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Masjid Nabawi, maka para ulama menjelaskan dua alasan:

  1. Setiap nabi dikubur di mana ia meninggal dan ini atas kabar shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau meninggal di rumah ‘Aisyah yang sekarang jadi kubur beliau.
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya tidak dikubur di masjid, tetapi dikubur di rumah ‘Aisyah, adapun keberadaan kubur beliau sekarang masuk ke masjid karena terjadi perluasan Masjid Nabawi yang dilakukan oleh para penguasa-penguasa jauh setelah beliau dan dua shahabatnya meninggal.

Renovasi dan Perluasan

Masjid Nabawi telah mengalami beberapa kali perluasan. Perluasan pertama dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahun ke-7 H, sepulangnya dari Khaibar. Selanjutnya diperluas kembali oleh Khalifah Umar bin Khattab  tahun 17 H. Saat itu Umar menambahkan sebuah tempat yang agak meninggi di luar masjid yang dinamakan batiha. Tempat ini digunakan oleh orang-orang yang hendak mengumumumkan suatu berita. Sengaja Umar membuatkan tempat ini untuk menjaga kemuliaan masjid.

Masjid diperluas lagi oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² tahun 1372 H.

Dilanjutkan Raja Fahd  (1414 H), sehingga luas bangunan mencapai 100.000 meter persegi. Diperkirakan saat ini Masjid Nabawi dapat menampung kira-kira 535.000 jamaah.[]

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *