Home / Inspirasi / Masjid Al-Qahthani: Melahirkan Kader Tahfizhul Qur’an

Masjid Al-Qahthani: Melahirkan Kader Tahfizhul Qur’an

Seringkali pengelola masjid mengeluh susahnya memiliki imam yang handal dan fasih dalam bacaan Al-Quran. Namun hal itu tidak terjadi dengan Masjid Jami’ Shalih bin Hamir Al-Qahthani.

Masjid yang bertempat di Desa Sidowayah Klaten ini memiliki program tahfizh yang patut menjadi rujukan dalam melakukan kaderisasi remaja.

Selain memiliki program kefasihan bacaan Al-Quran, juga program kemampuan menghafal beberapa Juz Al-Qur’an dalam waktu relatif singkat.

Secara historis, masjid ini mulai dibangun pada pertengahan tahun 2014 dan diresmikan pada tanggal 30 Ramadhan 1435 H, bertepatan dengan 28 Juli 2014.

Masjid ini berdiri atas kerjasama antara Yayasan Bina’ Muwahhidin dan masyarakat. Dengan bantuan Bina’ Muwahhidin dan partisipasi dari masyarakat, terwujudlah ruang kelas, rumah imam, dan tempat wudhu’.

Untuk mewujudkan masjid, masyarakat tidak hanya mengandalkan semangat dan perjuangan ide saja, tetapi melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk mewujudkan fisik masjid.

Selain itu keterlibatan masyarakat bergotong-royong dan bahu-membahu guna mewujudkan masjid. Sehingga dalam kurun waktu empat bulan, masjid ini berdiri dan munculah aktivitas yang menggairahkan di dalamnya.

Program Tahfizh

Salah satu kegiatan Masjid Jami’ Shalih bin Hamir Al-Qahthani adalah program tahfizhul Qur’an, yang merupakan program unggulan yang bisa dijadikan sebuah model bagi masjid-masjid lain.

Kegiatan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan santri merupakan kegiatan di tempat ini. Kegiatan menghafal Al-Qur’an diselenggarakan di sela-sela aktivitas TPA. Artinya, kegiatan menghafal Al-Qur’an tidak dilakukan setiap hari karena waktu yang dimiliki oleh pengasuh khusus program Tahfizh ini hanya sekali dalam seminggu. Namun dengan perencanaan yang matang, jadwal yang intensif, serta monitoring yang terus menerus, program ini berhasil melahirkan anak santri yang bisa menghafal satu juz dalam beberapa pertemuan.

Saat ini santri yang terlibat dalam kegiatan ini sudah mencapai 30 orang. Sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar, yakni warga Desa Sidowayah, juga diikuti oleh beberapa desa sebelah.

Selain program tahfizh, masjid ini juga mengadakan kajian yang dilaksanakan setiap minggu, tepatnya setiap malam Rabu, diikuti masyarakat sekitar.

Partisipasi masyarakat inilah yang menjadi kata kunci suksesnya kegiatan di masjid ini.

Rencana Pengembangan Masjid

Keberhasilan program tahfizh tidak lepas dari kurikulum yang jelas dan pengasuh program yang mumpuni, serta ditunjang oleh keinginan kuat pengurus takmir untuk melahirkan generasi muda yang handal dan memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an.

Keberhasilan program tahfizh ini bisa dilihat dari kemampuannya dalam menghasilkan anak santri yang berhasil menghafal Al-Qur’an.

Kondisi yang demikian menarik minat kaum Muslimin sekitar masjid dan tetangga desa, untuk mendaftarkan anaknya mengkuti program ini.

Dengan demikian, lokal kelas yang tersedia perlu ditambah lagi. Pengurus takmis masjid ini berencana untuk menambah lokal untuk para santri yang ingin belajar tahfizh di masjid Jami’ Shalih bin Hamir Al-Qahthani ini.

Karena sampai saat ini kegiatan tahfizh hanya berlangsung beberapa jam saja, dan setelah belajar para santri pulang ke rumah. Oleh karena itu, takmir masjid berencana untuk membuat pondok, sehingga membuat akselerasi (percepatan) program tahfizh ini. Dengan sistem pondok ini, maka menghafal Al-Qur’an bisa diwujudkan dalam waktu yang lebih singkat.

Oleh karena itu, program selanjutnya dari Masjid Jami’ Shalih bin Hamir Al-Qahthani adalah membangun gedung asrama untuk para santri yang akan menghafal Al-Qur’an, insyaa Allah. Semoga Allah memudahkan.[]

 

Oleh: Ibnu Fanami

About Admin

Check Also

Kehadiran Masjid Tharfah Mendongkrak Program Sekolah

Sebuah Masjid berukuran 14 x 13 meter berdiri kokoh di atas tanah seluas 2.123 M2. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *