Home / Inspirasi / Masjid Al-Hajah Sittul Banat ; Kokoh di Bekas Tanah Angker

Masjid Al-Hajah Sittul Banat ; Kokoh di Bekas Tanah Angker

Bertempat di Jalan Goa Landak No.1 Mantup Lamongan, sebuah bangunan berukuran 13 X 15  meter berdiri tegak berdampingan dengan ruang toko seluas 5 x 7 meter serta ruang imam yang berukuran 5 x 6 meter.  Inilah Masjid Al-Hajah Sittul Banat Khalid Ali, yang pembangunannya sudah dimulai pada tanggal 21 Rabi’ Ats-Tsani 1435 (21 Pebruari 2014 M) dan diresmikan penggunaannya tanggal 5 Agustus 2014.

Masjid ini dibangun atas bantuan Yayasan Bina’  Muwahhidin Surabaya dan partisipasi masyarakat. Bantuan masjid ini dilengkapi dengan 2 ruang tempat wudhu dan 4 kamar mandi sehingga masjid ini terasa lengkap.

Luas lahan di area masjid sebenarnya mencapai 2 ha. Namun yang dipergunakan baru 6.000 m2 sehingga pengembangan untuk aktivitas masjid ini begitu leluasa.

Di area sekitar masjid memungkinkan untuk dipergunakan pengembangan seperti ternak itik, ayam, kambing, serta perikanan. Karena di area ini ada sumber air dan struktur tanah rendah. Bahkan ada taman pemandian karena dekat sumber air. Bahkan untuk perkebunan juga memungkinkan.

Di pagi hari, sebagian lahan masjid ini dipergunakan sebagai lembaga pendidikan yakni SMK 10 Mantup dengan jumlah siswa sebanyak kurang lebih 200 orang. Serta Paud dan TK 20 anak.

Sementara di sore hari dipergunakan Madrasah Diniyah (Madin) dengan jumlah 30 anak.

Lahan seluas 2 ha ini awalnya adalah tanah yang tak terawat. Sehingga tidak ada pihak manapun yang tertarik untuk membeli tanah ini. Bahkan struktur tanah ini tidak datar, alias naik turun sehingga butuh biaya besar untuk meratakannya.

Karena itu wajar apabila tanah ini tidak ada yang berminat untuk memilikinya. Apalagi kondisi tanah yang demikian lama tak terurus ini membuat tanah ini mirip hutan, sehingga muncul pandangan bahwa tanah di sini angker.

Karena kondisi itulah, awalnya menjual lahan ini diakui sangat sulit. Karena itu pemiliki membiarkannya dan berniat menjualnya namun harga yang murah. Sementara salah seorang penggagas sekaligus pembeli tanah ini, yakni pak Sujud, melihat bahwa tanah ini sangat potensial untuk dikembangkan.

Berkat izin Allah terjadilah transaksi dua pihak antara penjual dan pembeli. Jual beli tanah yang dianggap angker ini terjadi dengan harga yang murah. Setelah terjadinya proses jual beli tanah itu, maka akhirnya dibangun untuk kepentingan lembaga pendidikan hingga berdirilah masjid ini.

Sampai hari ini, masjid dipergunakan untuk beberapa aktivitas, di antaranya kajian rutin setiap bulan yang dihadiri oleh pengurus ranting di wilayah Mantup. Pesertanya sekitar 250 orang.  Masjid juga dipergunakan untuk aktivitas Darul Arqom Siswa SMK serta Pondok Ramadhan serta pusat pusat Pelatihan Team SAR Karyawan RSML.

Kendala yang dihadapi oleh pengelola masjid ini ada beberapa hal. Pertama, problem air. Maklum, air di sini masih bergantung dengan Hipam Desa, belum punya sumber air sendiri (sumur). Sehingga terkadang kurang ketika kebutuhan air begitu banyak.

Kedua, belum adanya dai atau imam yang mendiami rumah imam. Karena belum mampu memberi imbalan yang sepadan.

Ketiga, dana terbatas. Pendanaan yang dihimpun dari jamaah masih terbatas ongkos tukang sapu dan perawatan.

Dengan tiga problem di atas, tidak menyurutkan pengelola yayasan masjid ini untuk mengembangkan aset yang dimiliki untuk kepentingan umat Islam di Mantup. Sejumlah program telah disiapkan namun membutuhkan proses dan kesungguhan komunitas Masjid itu. Semoga ke depan ada solusi lebih baik agar Masjid ini lebih hidup. [] SM

About Admin

Check Also

Kehadiran Masjid Tharfah Mendongkrak Program Sekolah

Sebuah Masjid berukuran 14 x 13 meter berdiri kokoh di atas tanah seluas 2.123 M2. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *