Home / Masjid / Masjid Al-Akbar Maskot Kota Surabaya

Masjid Al-Akbar Maskot Kota Surabaya

Memiliki 2000 tiang pancang pondasi. Kubah meniru Masjid Raya Selangor di Syah Alam Malaysia.”

Ciri yang paling khas dari masjid yang berada di samping Jalan Porong-Surabaya ini adalah sebuah kubah besar berwarna biru dengan pola garis-garis hijau dan didampingi 4 kubah kecil di sisi-sisnya. Serta memiliki satu menara setinggi 99 meter.

Dalam sejarahnya, Surabaya ibu kota Jawa Timur dan kota terbesar nomor dua di Indonesia ini —dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta jiwa— memiliki populasi muslim sekitar 90 persen. Tidak berlebihan jika dikatakan di sini bahwa perjuangan rakyat Surabaya di tahun 1945 adalah perjuangan umat Islam, sebagai tercermin dalam takbir “Allahu Akbar” yang dipekikkan para pejuang kemerdekaan waktu itu.

Atas gagasan Wali Kota ketika itu, H. Soenarto Soemoprawiro, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mulai dibangun sejak 4 Agustus 1995. Pembangunan masjid ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden Jenderal (Pur) Try Sutrisno.

Sayangnya, di tengah pembangunan sempat terhenti. Lantaran bertepatan dengan krisis moneter. Berlanjut lagi pada tahun 1999 dan selesai pada 2001. Bertepatan juga memperingati Hari Pahlawan, pada 10 November 2000, masjid ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Indonesia ke-4,  Presiden Abdurrahman Wahid.

Secara fisik, luas bangunan dan fasilitas penunjang MAS adalah 22.300 meter persegi, dengan rincian panjang 147 meter dan lebar 128 meter. Keunikan bentuk kubah MAS ini terletak pada bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer yang memiliki tinggi sekitar 27 meter. Untuk menutup kubah, dipergunakan sebuah produk yang juga digunakan di beberapa masjid raya seperti Masjid Raya Selangor di Syah Alam (Malaysia).

Di samping itu, pintu masuk ke dalam ruangan masjid ini tinggi dan besar, sementara mihrabnya adalah mihrab masjid terbesar di Indonesia. Adapun di masjid ini juga tersedia berbagai macam fasilitas untuk masyarakat umum. Di antaranya perpustakaan, poli klinik, thibbun nabawi, radio, konsultasi, bimbingan muallaf dan lain-lainnya.

Tidak hanya itu, MAS juga menyediakan berbagai macam program-program. Seperti KB RA/TK, MI, Ma’had Aly, Ayo Ngaji, TPQ, dan LAZ MAS.

Arsitektur

Rancang bangun arsitektur MAS dikerjakan oleh tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama konsultan ahli yang telah berpengalaman membangun masjid-masjid besar di Indonesia.

Mengingat posisi lahan yang labil dengan tingkat kekerasan yang minim, maka pembuatan pondasi dilakukan dengan system pondasi dalam atau pakubumi. Tidak kurang dari 2000 tiang pancang bagi pondasi masjid ini.

Lantai dirancang dengan ketinggian 3 meter dari permukaan jalan sekitar lokasi. Namun dalam pelaksanaan selanjutnya mengalami perubahan, ruang urugan dijadikan basement, lantai diatas basement (lantai 1) disangga dengan tiang-tiang (sistem flooting floor). Pengerjaan lantai dibuat engan sistem pengecoran ditempat dan beton precast, terdiri dari plat lantai empat persegi panjang berukuran 3 x 3 meter dan tebal 15 cm.

Untuk dudukan struktur atap disiapkan, balok beton (ringbalk) dengan sistem vierendeel yang menghubungkan kolom-kolom struktur pada ketinggian 20 m dari atas lantai dasar (lantai 1).

Ringbalk ini membentang 30 m tanpa kolom, sehingga bidang lantai tidak terpisah oleh sekat maupun kolom, dengan demikian dijamin bahwa jamaah tidak saling terpisah oleh sekat maupun kolom pada waktu shalat.

Kubah Masjid

Rangka kubah dibuat dengan sistem space frame, menggunakan bahan besi baja dengan sistem chremona atau struktur segitiga yang disambung-sambung. Selanjutnya kubah dibentuk di atas rangka atap dengan bentangan utama berukuran 54 x 54 meter, tanpa ada tiang penyangga. Bobot kubah tersebut hampir mencapai 200 ton.

Pintu Masjid

Masjid ini memiliki 45 pintu dengan daun pintu (bukaan) ganda yang berarti dibutuhkan 90 daun pintu dengan ukuran masing-masing : lebar 1,5 m dan tinggi 4,5 m. Pintu terbuat dari kayu jati yang didatangkan khusus dari Perhutani dan dibuat oleh para pengrajin dari Surabaya. Kusen terbuat dari rangka besi dilapisi kayu yang dihubungkan ke engsel maupun slot yang telah diselaraskan dengan struktur dan estetika masjid. Karena berat daun pintu ini lebih dari 250 kg, maka engsel didesain dan dibuat secara khusus.

Mimbar Masjid

Mimbar dibuat dengan ketinggian 3 meter untuk mendukung kemantapan khotbah. Agar tercipta suasana khas, mimbar diberi sentuhan etnis dengan hiasan ornamen Madura yang digarap para pengrajin dari Madura.

Menara Masjid

Dalam rancangannya menara tadinya berjumlah 6 buah, namun karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis maupun biaya, maka menara hanya dibuat satu. Untuk membangun menara masjid ini digunakan teknologi Slip Form dari Singapura yang memerlukan waktu sekitar 2 bulan dalam pengecorannya. Menara ini memiliki ketinggian 99 meter yang puncaknya dilengkapi dengan view tower pada ketinggian 68 meter yang dapat memuat sekitar 30 orang dan pencapainnya dengan menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Surabaya.

Aula Masjid

Aula dibangun dengan konsep kesatuan antara estetika lingkungan dan fungsi plaza sebagai lapangan ibadah, untuk ibadah tertentu seperti shalat Ied dan lain-lain. Luas plaza kurang lebih 520 m2, dengan bahan lantai paving stone, yang didesain khusus untuk Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, motif desain dibuat sesuai dengan ornamen arsitektur masjid, garis motif dibuat sejajar dengan garis shaf di halaman masjid.[]

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *