Home / Kisah / Ketika Hawa Nafsu Menguasai Hati Manusia

Ketika Hawa Nafsu Menguasai Hati Manusia

Oleh

Dr. Slamet Muliono

Al-Qur’an di berbagai tempat menyebutkan bahwa hati manusia memiliki kecenderungan untuk tunduk dan patuh mengikuti kebenaran. Hati yang lurus ini akan mudah untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketika hati bersih maka mudah untuk berdzikir, shalat, atau melakukan amalan-amalan kebaikan. Demikian pula ketika hati tak ternoda, akan mudah untuk meninggalkan kemaksiatan, seperti berbicara bohong, menipu, atau berbuat curang kepada orang lain.

Hawa Nafsu dan Rusaknya Tatanan Sosial

Sebaliknya, hawa nafsu mengganti posisi hati, maka ketundukan dan kepatuhan untuk berbuat baik berubah untuk selalu menentang dan melawan perintah. Hal ini dibenarkan Allah sebagaimana firman-Nya  :

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ٤٣ أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلًا ٤٤

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu) (QS. Al-Furqan : 43-44)

Allah menjelaskan bahwa ketika hawa nafsu menjadi atau tolok ukur, maka sulit untuk menerima kebenaran. Ketika seseorang berbuat kemaksiatan atau dosa bisa dipastikan karena kendali hawa nafsu. Misalnya ketika manusia suka berbuat zina, maka sulit bagi dirinya untuk mencegahnya. Padahal akal sehatnya sudah menyarankan dirinya untuk meninggalkannya, karena perbuatan zina berpotensi besar untuk merusak tubuhnya atau menghancurkan keluarganya serta menghabiskan uangnya. Demikian pula orang yang suka menyuap, maka sulit untuk menghentikannya, padahal akal pikirannya jelas mengarahkan dan menasehatinya bahwa perbuatan itu bukan hanya merugikan satu orang tetapi merusak sebuah tatanan yang sudah bagus.

Hal ini bisa kita lihat penuturan Al-Qur’an dengan mencontohkan perbuatan kaum Nabi Luth yang memperturutkan hawa nafsunya sementara mereka mengetahui bahwa perbuatan itu bukan hanya keji dan menjijikkan. Al-Qur’an memaparkan bahwa perbuatan liwath (hubungan sesama jenis) berdampak buruk bagi bagi manusia, tetapi karena hawa nafsu telah menguasai mereka, sehingga akal sehat menjadi hilang. Ha ini bisa kita lihat dalam firman-Nya :

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ ٥٤ أَئِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ٥٥

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihatnya (kekejian perbuatan maksiat itu) ? "Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui. (QS. An-Naml : 54-55)

Hawa Nafsu dan rusaknya Generasi

Ketika hawa nafsu memperoleh ruang dan tempat dalam diri manusia, maka sulit untuk mengontrol perilaku dan mengarahkannya untuk berbuat baik. Bahkan cenderung untuk berbuat jahat dan merusak tatanan yang sudah berjalan baik bisa kita lihat ketika hawa nafsu sudah menjadi panutan. Ketika kebanyakan manusia memperturutkan hawa nafsu, maka Allah menyebut generasi ini sebagai generasi yang buruk.

۞فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (QS. Maryam : 59)

Sebelumnya, Allah menyebut-nyebut keunggulan generasi terdahulu karena ketaatan dan ketundukan kepada Allah, sehingga Allah menganugerahkan berbagai kebaikan dan keutamaan. Sejarah mencatat  generasi ini sebagai generasi yang terpercaya dan dimuliakan dengan kedudukan yang tinggi. Al-Qur’an menyebut Ibrahim sebagai pribadi yang lurus dan jujur. Allah mengabadikan Ishaq dan Ya’kub dengan sebutan terpercaya dan  agung. Allah juga menyebut Ismail sebagai pemegang amanat yang kokoh yang memerintahkan keluarganya untuk menegakkan shalat. Generasi-generasi yang mulia itu begitu kokoh karena mewarisi generasi-generasi sebelumnya yang agung.

Namun Allah menyebut dengan munculnya generasi pengganti yang buruk dan hina. Generasi baru ini tidak mewarisi generasi sebelumnya. Kalau generasi Ibrahim, Ishaq, Ya’kub, dan Ismail begitu mulia karena memegang teguh amanat dan jujur dalam berucap, serta sabar dalam menegakkan perintah shalat dan menekan peran hawa nafsu. Maka generasi baru ini justru meremehkan dan meninggalkan shalat serta memperturutkan hawa nafsu. Inilah generasi terburuk karena menempatkan hawa nafsu di atas ketaatan kepada Allah.

Memperturutkan hawa nafsu itu yang menutup jalan kebaikan dan membuka pintu keburukan. Maka disitulah awal kehancuran peradaban manusia, sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Hud dan Nabi Shalih yang memiliki fisik yang tinggi dan tangguh dengan kekayaan yang melimpah. Namun menolak kebenaran dan memperturutkan hawa nafsu, sehingga membuat   mereka dihancurkan dan dibinasakan tanpa tersisa satupun.

Kedatangan Nabi dan Rasul hanyalah untuk meluruskan hati manusia untuk taat dan mau berpegang teguh pada kebenaran. Umatnya yang patuh akan memperoleh kemuliaan, sementara yang menolak akan ditimpa kehinaan dan kebinasaan. Maka disinilah makna bahwa perintah Nabi bukan didasarkan pada hawa nafsu tetapi pada ketentuan wahyu yang jelas akan memuliakan manusia dan menyelematkan dari kebinasaan.[]

About Admin

Check Also

PERPECAHAN UMAT DAN BANGSA BESERTA SOLUSINYA

PERPECAHAN UMAT DAN BANGSA BESERTA SOLUSINYA Edisi Mei 2017 | Masajid Siapa yang keluar dari ketaatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *