Home / Taushiyah / Ketaatan Kepada Allah dan Rasul-Nya

Ketaatan Kepada Allah dan Rasul-Nya

Hidup hanya dua pilihan: taat pada Allah dan Rasul-Nya yang menghantarkan sukses dunia-akhirat atau membangkang yang berakhir kesengsaraan hidup.”

Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Zainab binti Jahsy untuk meminangnya buat Zaid bin Haritsah. Zainab menolak. Ya dia berpikir, bagaimana mungkin ia yang cantik jelita dan dari keluarga terpandang, akan dinikahkan dengan seorang mantan budak, yang juga bukan laki-laki gagah? Penolakan Zainab diamini oleh Abdullah bin Jahsy, saudara laki-lakinya, juga didukung oleh sang ibu, Umayyah binti Abdul Muthalib.

Tidak lama setelah penolakan lamaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh keluarga Zainab tersebut, turunlah ayat:

«وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا»

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, bila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Seketika, Zainab menyadari kesalahannya. Dengan cepat dan tulus ia mengiyakan untuk dinikahkan Nabi dengan Zaid bin Haritsah. Itulah sikap sejati seorang Muslim.

«إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»

“Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]: 162)

Taat Tanpa Syarat

Seberat apapun perintah itu, jika ia datang dari Allah dan Rasul-Nya maka seorang Muslim sejati siap menjalankannya. Ia siap berkorban apa saja untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan hingga nyawanya sekalipun.

Adalah Ibrahim dan Ismail, contoh bersejarah tentang hamba yang siap mentaati Allah dengan mengorbankan nyawanya. Tentu, termasuk juga para mujahid di medan perang yang siap menjual nyawanya untuk ditukar dengan keridhaan dan Surga Allah ta’ala.

Secara logika, sungguh tidak masuk akal seorang ayah harus menyembelih putra yang sangat dicintainya. Sulit dinalar seorang anak siap untuk disembelih oleh ayahnya sendiri. Persoalannya bukan apa pekerjaan yang diperintahkan, tetapi siapa yang memerintahkan.

Ketaatan seorang Muslim sejati kepada Allah dan Rasul-Nya adalah tanpa syarat. Tetap taat meski mungkin secara lahiriah bertentangan dengan logika, perasaan atau hawa nafsunya. Ringan atau berat, susah atau senang, sehat atau sakit, bahkan hingga harus membayarnya dengan nyawa, seorang Muslim sejati tidak akan mempermasalahkannya. Hidupnya yang penting adalah untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, meski apapun pengorbanan yang harus dikeluarkan.

Jangan Menolak

Akhir-akhir ini sebagian kalangan menolak perintah Allah. Ada yang menolak dengan logikanya. Misal, soal waris. Mereka berkata, tidak adil bagian anak laki-laki dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Menurut mereka, pada era emansipasi wanita dan kesetaraan gender seperti sekarang , sudah tidak jamannya membedakan laki-laki dengan wanita. Mereka harus diperlakukan sama dalam segala hal, termasuk dalam soal warisan. Mereka menabrak hukum Allah dengan logikanya.

Ada yang menolak poligami dengan perasaannya. Menurut mereka, praktik poligami adalah merendahkan derajat wanita. Akibatnya, pelacuran terjadi di mana-mana dan banyak negara yang akan kehilangan generasi, karena kaum wanitanya enggan menikah dan yang menikah enggan melahirkan.

Ada yang menolak menutup aurat. Alasannya jilbab hanyalah budaya Arab. Sehingga mereka membiarkan —dengan pamer dan bangga— putri-putrinya tidak menutup aurat. Akhirnya banyak kaum wanita Muslimah mengikuti fatwa sesatnya, berpakaian tapi telanjang seperti wanita-wanita kafir, tidak bisa dibedakan.

Apa yang mereka lakukan tersebut meniru perbuatan iblis yang membangkang Allah dengan logika, perasaan dan hawa nafsunya. Saat diperintah untuk bersujud kepada Adam, iblis berkata:

«أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ»

“Saya lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf [7]: 12)

Iblis tidak taat kepada perintah Allah seperti para malaikat maka ia menjadi makhluk celaka dan calon penghuni Neraka bersama para pengikutnya.

Sebaliknya, orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah manusia yang sukses besar dalam hidupnya. Di dunia, Allah menjamin hidupnya dengan ketenangan, keselamatan, dan kebahagiaan. Dan kelak di Akhirat mereka akan mengarungi kenikmatan tak bertepi, di Surga Allah yang abadi.

«وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا»

“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah beruntung dengan keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 71).[]

 

Oleh: Ustadz Dr. Ainul Haris

About Admin

Check Also

Membiasakan “Iqra’”

Bangsa yang gemar membaca adalah bangsa yang berperadaban. Bangsa yang malas membaca adalah bangsa yang  …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *