Home / Lensa Dunia / “Intoleransi” di Negeri Toleran

“Intoleransi” di Negeri Toleran

Dalam tata kehidupan dunia, Hak Asasai Manusia (HAM),  saat ini seolah menjadi landasan semua perkara. Alat ukur semua persoalan kehidupan bukan lagi hukum-hukum Allah, bukan haq dan bathil, tetapi demokrasi dan HAM.

Belakangan ini, nilai yang lahir dari pemikiran orang Barat (yang dikenal tidak percaya agama ini) justru dipaksakan menjadi rujukan hidup kita, mengalahkan kitab suci.

Banyak orang saat ini sibuk menjadikan HAM menjadi wirid dari semua persoalan hidup. HAM terbentuk dari tiga kata; hak, asasi dan manusia. Kata hak dan asasi merupakan kata yang diderivasi dari bahasa Arab. Hak yang dalam bahasa Arab haqq yang berasal  dari  haqqa-yahiqqu (boleh, benar, nyata, pasti  tetap dan wajib). Sedangkan asasi berasal dari assa-yaussu (berarti asal, asas, pangkal, dasar dari segala sesuatu).

Al Haqq (Yang Maha Benar) juga di antara Al-Asmaul Husna,  salah satu nama mulia milik Allah sebagaimana dikutip Surat Al-Hajj: 6.

Fatkanya, prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) justru anti Islam dan melahirkan gerakan  liberalisasi  melawan Syariah.

Nilai-nilai HAM yang berusaha mensekulerkan hukum-hukum Islam dikampanyekan lewat tulisan, buku, ceramah bahkan penelitian oleh berbagai kalangan.

Banyak produk hukum Islam dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi. Konsep kafir, murtad, dan musyrik  dinilai intoleran dan diskriminatif.

Syariat dianggap telah melecehkan kaum wanita.  Hadits dianggap bias bias gender dan berbau politik. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap Al-Quran, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi.

Salah satu dari sekian prinsip dan nilai-nilai turunan dari HAM adalah istilah toleransi dan intoleransi. Awalnya istilah ini bermakna umum. Namun belakangan, dua istilah itu justru dimaksudkan untuk memojokkan umat Islam.

Empat Strategi Amerika

Adalah Rand Corporation, lembaga nirlaba asal Amerika Serikat yang pada 2007 silam menurunkan hasil penelitian dan laporan berjudul "Building Moderate Moslem Networks" (Membangun Jaringan Muslim Moderat) yang ditulis oleh Angel Rabasa, Cheryl Bernard, Lowell H. Schwartz, dan Pieter Sickle.

Rand Corporation adalah lembaga think tank yang hasilnya digunakan pemerintah AS menjadi kebijakan. Khususnya kebijakan untuk negara-negara Islam.

Ada empat  langkah strategis yang diusulkan Cheryl Bernard, sebagaimana dalam laporan Rand Corporation.

Pertama, Rand meminta AS mendukung kelompok cendekiawan modernis (liberal).  Kedua, mendukung kelompok tradisionalis dalam menghadapi fundamentalis. Serta mempublikasikan hasil kritik-kritik kelompok tradisionalis. Serta memupuk perselisihan di antara keduanya.

Ketiga, Rand, mengusulkan agar membongkar keburukan  kelompok ‘fundamentalis’, mempublikasikan tindak kekerasan mereka dan menjuluki mereka sebagai pahlawan jahat. Rand juga meminta wartawan menginvestigasi tindak amoral kelompok ini dan memecah belahnya.

Keempat, tak lupa, Rand mendesak AS mendukung kelompok sekularis dan mendukung ide bahwa Islam dan Negara harus dipisahkan.  Kelompok ‘fundamentalis’ yang dimaksud, tidak lain kelompok yang masih memegang teguh Syariat Islam.

Kurang Toleran?

Rekomendasi Rand sudah mulai tumbuh di Indonesia. November lalu, Setara Institute, mengumumkan 10 kota dengan peringkat toleransi paling rendah terhadap kebebasan beragama. Kota Bogor dianggap menempati kota paling “tidak toleran” setelah Bogor melarang Syiah mengadakan Perayaan Asyuro.

AS  terus mendanai proyek-proyek anti syariat secara masif. Tahun 2012, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi membuat survei di Jakarta terkait toleransi.

Hasilnya menunjukkan 80,6 persen warga DKI Jakarta dianggap “tidak toleran” karena tidak nyaman hidup berdampingan dengan kelompok yang memiliki kelainan seksual seperti Lesbian, Homoseksual, Bisexual, dan Transgender (LGBT).

Saat ini, semua isi kandungan Al-Quran bisa dianggap anti HAM dan tidak toleran.  Hebatnya, nilai-nilai Barat menyetir 260 juta penduduk Indonesia yang mayoritas Islam.

Padahal, tahun 2013, Menag Suryadharma Ali mengumumkan, pertumbuhan masjid di Indonesia dalam 20 tahun terakhir paling rendah dibandingkan gereja. Menurut Suryadharma,  masjid hanya tumbuh sebesar 64 persen, sementara Katolik mencapai 133 persen dan Protestan 153 persen. Inilah fakta “toleransi” di Negara yang sangat toleran bernama Indonesia.* []

Oleh: A. Kholis

About Admin

Check Also

Erdogan dan Harapan Baru Dunia Islam

Peserta debat yang bertopik Gaza —termasuk penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret— hari itu terbelalak. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *