Home / Kajian Utama / Imam Masjid Bukan Sekedar Penjaga Masjid

Imam Masjid Bukan Sekedar Penjaga Masjid

Oleh: Brilly El-Rasheed

Dulu, mengambil upah dari profesi imam masjid dianggap sebagai tindakan yang dijauhi oleh umat Islam generasi awal. Posisi imam masjid dianggap sebagai posisi suci dan mulia yang tidak layak bagi siapapun untuk mengambil untung sepeserpun darinya. Nilai moral ini bersumber dari ketetapan Nabi, “Jadikanlah muadzin, orang yang tidak mengambil upah dari adzannya.” (Shahih: Sunan Abu Dawud no. 447)

Dengan demikian, muadzin dan imam masjid sama-sama dilarang berhasrat terhadap upah atas jerih payahnya.

Namun kini, di sebagian negara, di beberapa daerah, di sekian banyak masjid, banyak orang-orang yang mengabdikan dirinya sebagai imam masjid dan muadzin namun mematok hak upah. Ini tidak dibenarkan.

Apakah sepenuhnya imam masjid dan muadzin tidak diperbolehkan menerima satu-dua keping pundi uang? Beribadah untuk mencari upah tidak diperbolehkan dalam agama, karena hal tersebut termasuk menjual agama dengan harga yang murah. Namun, para ulama memberikan keringanan bagi tukang adzan dan imam menerima hadiah atas jerih payah waktu dan tenaganya. Demikian menurut Imam Malik.

Kitab Mawahib Al-Jalil menyebutkan, “Siapa yang memperkerjakan seseorang untuk menjadi muadzin, iqamah, dan menjadi imam maka ini diperbolehkan. Upah yang diberikan adalah sebagai ganti untuk usahanya dalam menjaga adzan, iqamah, dan menjaga masjid, bukan untuk shalatnya.”

Persoalan yang patut dikeluhkan, adalah banyaknya imam masjid yang kurang layak. Kurang layak karena kapabilitas dan kompetensinya tidak sesuai standar. Jangan dikira imam masjid sebatas pemimpin shalat berjama’ah lima waktu dan tarawih.

Seperti halnya di Masjidil Haram, seharusnya Imam masjid adalah profesi yang memilki standar kelayakan sebagai profesional lain. Sebab imam masjid bukan sebatas penjaga masjid.

Oleh karenanya, seruan gerakan mencetak imam masjid tidak tepat diartikan sebatas memperbanyak jumlah pekerja yang duduk di mihrab-mihrab masjid sebagai imam shalat, kemudian memberikan honor yang memuaskan. Honor yang memuaskan adalah satu bentuk penghormatan yang patut diacungi jempol. Namun bukan berarti imam masjid dibiarkan saja tanpa ada tuntutan profesionalitas.

Rasulullah telah menjelaskan mengenai siapa saja orang yang berhak dan lebih utama untuk menjadi imam dalam shalat.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari, Rasulullah bersabda:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلَا فِي سُلْطَانِهِ وَلَا تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ

“Hendaknya yang menjadi imam shalat suatu kaum adalah yang paling hafal Al-Qur`an dan paling baik bacaannya. Apabila dalam bacaan mereka sama maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling dahulu hijrahnya. Apabila mereka sama dalam hijrah maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling tua. Janganlah kalian menjadi imam atas seseorang pada keluarga dan kekuasaannya, dan jangan juga menduduki permadani di rumahnya, kecuali ia mengizinkanmu atau dengan izinnya.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya, gerakan mencetak imam masjid adalah proyek raksasa yang membutuhkan totalitas dari seluruh komponen masyarakat Islam. Tidak bisa dibiarkan, proyek ‘produksi’ imam masjid hanya ditangani oleh pihak-pihak tertentu, mengingat imam masjid adalah dari masyarakat dan untuk masyarakat maka harus oleh masyarakat. Imam masjid berperan memimpin pengelolaan masjid dan segala aktifitasnya, pendidikan masyarakat di masjid, pendayagunaan aset-aset masjid, pelaksanaan ibadah-ibadah seperti shalat tarawih, shalat jenazah, shalat gerhana, shalat ‘Idain, dan lain sebagainya.

Sebagaimana termaktub dalam lembaran sejarah, imam masjid adalah sosok yang menggerakkan masyarakat di dalam masjid maupun di luar masjid untuk selalu terikat dengan Allah Al-Jabbar.

Pada saat masjid pertama kali didirikan dalam sejarah Islam, Rasulullah adalah imam masjid sekaligus pemimpin Negara. Tatkala Rasulullah mendekati ajal, beliau sakit keras. Rasulullah meminta Abu Bakar menjadi imam masjid sementara.

Sepeninggal Nabi, Abu Bakar-lah yang didapuk masyarakat Madinah untuk menjadi imam masjid Nabawi sekaligus pemimpin Negara. Mu’adz bin Jabal diutus Rasul untuk menjadi imam masjid di masjid kampung jauh dari Masjid Nabawi, dan masyarakat sekitar menjadikan Mu’adz sebagai pemimpin wilayah tersebut.

Alhasil, gerakan mencetak imam masjid adalah gerakan melahirkan pemimpin umat. Maka kedalaman pemahaman fiqih dan skill leadership harus menjadi parameter memilih imam masjid sekaligus materi paling utama dalam proses pengkaderan imam masjid. Semoga Allah menjaga dan memudahkan urusan para tukang adzan dan imam shalat sebagaimana mereka telah menjaga shalat kita dengan ditegakkannya shalat di masjid-masjid kaum Muslimin.*

About Admin

Check Also

MASJID DAN SOLUSI PERPECAHAN UMAT

Kajian Utama Oleh Dr. Slamet Muliono, M.SI   Bersama-sama memakmurkan masjid, bisa menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *