Home / Kajian Utama / Gerakan Shubuh dan Kebangkitan Umat Islam

Gerakan Shubuh dan Kebangkitan Umat Islam

Negara Turki adalah salah satu contoh negeri berpenduduk Islam yang tidak memiliki banyak ketergantungan pada Barat. Ia bahkan dikenal sebagai negara mandiri, dan diakui menjadi kekuatan baru, baik di bidang ekonomi maupun politik. Bahkan di bidang budaya, negara ini memiliki diestimasi wisata negara Islam terbesar di dunia.

Lihat saja, pembangunan nasional luar biasa. Negeri tanpa bantuan pinjaman dari luar negeri. Sementara Indonesia, hutang luar negerinya mencapai Rp 3000 Triliun, posisi no 5 di dunia.

Salah satu yang menopang kesuksesan Turki menjadi negara mandiri adalah karena mampu mengaplikasikan konsep-konsep Islam dalam kehidupan bernegara. Salah satunya gerakan shalat Shubuh berjamaah.

Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu, Turki mencanangkan tiga program nasional: Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah di Masjid, Gerakan Ekonomi Umat, dan Gerakan Infaq Sadaqah.

Dari kasus Turki itulah bisa diambil sebuah pelajaran bahwa ada hubungan yang sangat erat antara kepedulian shalat berjamaah Shubuh dan kebangkitan umat Islam.

Artinya, ketika umat Islam melalaikan shalat berjamaah Shubuh maka harapan kebangkitan umat sangat rendah. Sebaliknya, ketika spirit dan perhatian terhadap shalat berjamaah Shubuh begitu besar maka kebangkitan umat sudah di ambang pintu. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia harus didorong untuk memiliki ghirah (semangat) terhadap shalat Shubuh apabila menginginkan terwujudnya masyarakat yang bangkit dari berbagai kubangan persoalan.

Sebab ketika perhatian terhadap shalat berjamaah Shubuh secara istiqamah dilakukan oleh masyarakat muslim, maka yang terjadi adalah munculnya spirit untuk berjuang dalam menegakkan ajaran Islam.

Sementara bagi orang-orang munafiq, Shubuh merupakan shalat yang paling berat dilakukan. Maka secara empirik, shalat berjamaah Shubuh hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki keikhlasan dan spirit agama yang tinggi.

Keberkahan

Kalau melihat sejarah gemilang Nabi, kita akan dapati para sahabat begitu bersemangat dalam melaksanakan shalat berjamaah Shubuh, serta shalat berjamaah lainnya. Kaifiyah (cara) dan kronologi shalat Shubuh Nabi dilaksanakan begitu simultan dan berurutan. Misalnya, surat yang dibaca Nabi begitu panjang, sehingga begitu selesai shalat hampir saja matahari terbit. Sehingga menunggu beberapa saat, akan terbit matahari.

Cara dan kronologi shalat Shubuh, sebagaimana yang dilakukan Nabi, sangat memungkinkan untuk memperoleh keutamaan dan pahala yang besar, yakni memperoleh pahala yang sangat agung.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa orang yang melakukan shalat Shubuh secara berjamaah dan berdiam diri hingga terbitnya matahari, maka dia memperoleh pahala seperti orang yang melaksanakan haji dan umrah. Bahkan setelah shalat Shubuh, Nabi Muhammad menganjurkan aktivitas lain yang bisa mendatangkan barakah. Hal itu merujuk doa yang dipanjatkan Nabi untuk umatnya: “Ya Allah berkahi umatku di pagi hari.”

Doa Nabi ini merefleksikan adanya harapan untuk menjadikan umat yang menghubungkan dua aktivitas dalam satu rangkaian. Shalat Shubuh sebagai rangkaian ibadah yang bersifat vertikal, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas duniawi yang bisa menjaga keberlangsungan hidup seorang hamba. Artinya, aktivitas shalat Shubuh lebih banyak digerakkan oleh nilai-nilai ilahiyah sehingga menggerakkan seorang hamba untuk melakukan ibadah. Setelah shalat Shubuh dilanjutkan dengan aktivitas yang mendatangkan manfaat secara duniawi. Di sinilah makna doa Nabi untuk keberkahan umatnya di pagi hari.

Shalat Shubuh secara berjamaah merupakan salah satu di antara pintu-pintu untuk mencapai kesuksesan di akherat, dan hal itu sangat ditekankan dalam ajaran Islam.

Namun melanjutkannya dengan aktivitas dunia, dengan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, menunjukkan nilai dan kualitas pribadi Muslim yang agung. Dia begitu mulia di hadapan Allah karena memperhatikan kewajiban sebagai seorang hamba yakni shalat Shubuh. Dia begitu agung di hadapan keluarga karena sebagai kepala rumah tangga bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Gerakan shalat Shubuh secara berjamaah telah menggerakkan seorang hamba menjadi Muslim yang mulia dan agung. Untuk itu, tugas takmir telah ditunggu untuk menggerakkan masyarakat mendekat dan melaksanakan shalat Shubuh berjamaah di masjid.[]

 

Oleh: Dr. Slamet Muliono

About Admin

Check Also

MASJID DAN SOLUSI PERPECAHAN UMAT

Kajian Utama Oleh Dr. Slamet Muliono, M.SI   Bersama-sama memakmurkan masjid, bisa menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *