Home / Lensa Dunia / Internasional / Erdogan dan Harapan Baru Dunia Islam

Erdogan dan Harapan Baru Dunia Islam

Peserta debat yang bertopik Gaza termasuk penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret hari itu terbelalak.

“Saya sedih mengetahui peserta forum bertepuk tangan terhadap ucapanmu (Peres),” kata Erdogan. “Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru,”  demikian pernyataan PM Turki Recep Tayyib Erdogan disampaikan pada lawan dialognya, PM Shimon Perez, tokoh berlumuran darah dan pembantai Muslim Palestina.

Erdogan mengeluh karena moderator tidak adil. Shimon Peres diberikan waktu 25 menit, dirinya hanya diberi waktu 12 menit.  Dalam waktu terbatas, Erdogan memanfaatkan dialog dengan cermat dan tajam yang membuat semua mata terkesima.

“Saya masih ingat dua mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina,” kecam Erdogan. Setelah itu, ia meninggalkan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos tahun 2009 dan mengaku merasa cukup dalam dialog.

Sikap walkout Erdogan rupanya menghasilkan simpati. Saat sampai di Istanbul, Turki, ribuan massa menyambutnya dengan gegap gempita. Kepada massa, Erdogan mengatakan tak bisa menerima sikap pemimpin penjajah bangsa Palestina tersebut.

“Saya hanya tahu saya harus melindungi martabat Turki dan bangsa Turki,” kata Erdogan dikutip BBC.

Erdogan adalah salah satu dari sekian pemimpin dunia Islam yang punya sikap tegas terhadap Israel dan Barat. Dan ketegasannya  mendebat Shimon Perez, menuai pujian.

“Turki bersama Anda,” kata pendukungnya. Beberapa plakat yang menyambut Erdogan bahkan memujinya sebagai “pemimpin baru dunia”.

Kebangkitan Islam

Erdogan adalah ikon kebangkitan Islam politik pasca  Mustafa Kamal Attaturk menghapuskan sistem khilafah, 3 Maret 1924. Selama 15 tahun (1923-1938) berkuasa, Attaturk sukses menghapuskan hubungan Turki dengan semua hal berbau Islam. Saat itu pula Turki memilih jalan sekuler  dan menggunakan Barat sebagai model.

Mengembalikan Turki ke wajah aslinya yang ‘islami’ setelah dicengkeram sekularisme dan militer hampir 80 tahun, bukan perkara mudah.

Melaui AKParti (Partai Keadilan dan Pembangunan) Erdogan tak ingin bernasib seperti pendahulunya Mantan PM Turki Necmettin Erbakan dari Partai Refah, yang terus diganjal kalangan militer.

Ketika AKP berhasil memenangkan Pemilu legislatif tahun 2002, Erdogan berhasil menduduki posisi Perdana Menteri, semua baru dimulai.

Perlahan, nilai-nilai sekuler dihilangkan. UU larangan wanita berjilbab di sekolah dicabut,  Erdogan mengembalikan adzan dalam Bahasa Arab, penjualan minuman keras dan seks bebas ditekan.

11 tahun menjabat perdana menteri, Erdogan mampu melaju menjadi presiden Turki pertama melalui pemilihan langsung pada Agustus 2014, posisi yang selama ini hanya mendapat peran seremonial, di mana kekuasaan pemerintahan berada pada perdana menteri.

Di bawah Erdogan, Turki mulai menggeliat dan bangkit. Tahun 2013, Produk Domestik Nasional Turki mencapai 100 M dolar Amerika. Erdogan membawa negerinya melejit maju di bidang ekonomi dari ranking 111 dunia naik menjadi peringkat 16. Dengan peningkatan rata-rata 10% pertahun membuat Turki menjadi 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

Dalam 10 tahun, pendapatan per kapita Turki yang dulu 3500 dolar pertahun, meningkat 11.000 dollar di tahun 2013. Erdogan mampu menaikkan nilai tukar mata uang Turki 30 kali lipat.

Gaji serta upah di Turki meningkat hingga 300%. Gaji pegawai baru  dari 340 lira naik menjadi 957 lira. Defisit anggaran 47 milyar dolar berhasil diselesaikan. Jika sebelumnya Turki hutang ke IMF sebesar 300 juta dolar, Turki justru meminjami IMF sebesar 5 milyar dolar.

Ekspor Turki pada 10 tahun lalu hanya 23 milyar dolar, kini meningkat menjadi 153 milyar dolar dengan sasaran 190 negara.

Di antara pemimpin besar Negara Islam, Erdogan dan istrinya merupakan salah satu kepala negara yang datang ke Burma menemui langsung etnis Muslim Rohingya yang dibantai Budhha.

Erdogan kembali menghidupkan pengajaran al-Qur’an dan Hadits di sekolah-sekolah negeri, setelah hilang selama hampir 90 tahun, dihilangkan pemerintah sekuler dan militer.

Awal November 2015, AKP kembali menang telak mendapat 49,41% suara (316 kursi parlemen dari 550 kursi). Dengan demikian AKP berkuasa penuh di pemerintahan Turki.

Di tangan Erdogan, banyak yang memprediksi,  Turki akan menjadi salah satu kekuatan politik dan ekonomi paling besar di dunia tahun 2023.*[]

About Admin

Check Also

Masjidil Aqsha: Aksi Intifadhah Babak Baru

“Membela Al-Aqsha adalah kemuliaan kita,” Ujar Muhammad Halabi (19 tahun) Situasi memanas terjadi di seluruh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *