Home / Profil Da'i / Dr. Yusuf Estes: Mantan Pendeta yang Telah Mengislamkan Ribuan Orang

Dr. Yusuf Estes: Mantan Pendeta yang Telah Mengislamkan Ribuan Orang

Ceritanya bermula di tahun 1991. Ketika itu ayahnya yang menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir, dan memintanya bertemu untuk mengadakan kontak bisnis internasional.

Dibesarkan di lingkungan Kristen yang taat, pria yang juga dikenal sebagai misionaris ini awalnya menolak. Yang ia pahami tentang  Mesir adalah piramid, patung Sphinx, Sungai Nil dan Islam yang menakutkan.  Selain itu, yang ia bayangkan tentang Islam adalah teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi.

“Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu,” demikian gumamnya.

Karena itu, ia ingin ayahnya membatalkan kontak dengan pria Mesir itu.

Namun semuanya berubah setelah ia bertemu langsung dengan pria Mesir tersebut. Sebab ia  tidak seperti yang dipikirkannya. Muhammad Abdurrahim, demikian pria asal Mesir itu seorang yang ramah, murah senyum, santun, baik, dan berdandan rapi.

Pertemuan pertama dilakukan dengan berdiskusi dan membandingkan Islam dengan Kristen.  Ia makin kaget saat Abdurrahim mengatakan Islam juga mengakui Bible dan Isa Al-Masih (Nabi Isa ‘alaihisalam). Dirinya yakin, tak lama lagi, pria Mesir ini bisa diseret masuk Kristen.

Namun Allah berkehendak lain, dari pertemanan membawanya mengenal Islam lebih jauh. Ia sering mendiskusikan tentang Al-Quran, ibadah, dan semua hal berkaitan dengan Islam.

Mencari Tuhan

Lahir di Ohio, Yusuf besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuhnya mengalir darah Amerika, Irlandia, dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Semua keluarganya adalah penganut Kristen yang taat.

“Tahun 1949, ketika masih di bangku rendah kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas.”

Ia mempelajari semua agama,  bahkan ajaran Hindu, Buddha, Yahudi, hingga Metafisika. “Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak berminat sama sekali, Islam,” ujarnya mengenang.

Meski ayahnya seorang pendeta, selama bertahun-tahun ia tak menemukan jawaban atas pertanyaan tentang konsep Trinitas.

“Saya selalu bertanya-tanya, jika Yesus adalah Dia (Tuhan Bapa) bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”

Bahkan mendekati usia ke-50, pernyataan itu belum ada jawaban. Pertanyaan ini dicari selama bertahun-tahun, namun tak pernah ada jawaban sampai perkenalannya dengan Muhammad Abdurrahim.

Ia mengaku takjub saat diceritakan sejak pertama diturunkan hingga saat ini (selama 1400 tahun) Al-Quran hanya ada satu versi dan mampu dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa, Arab.

“Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami (Bible) dapat berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?”

Berkat perkenalan dengan Abdururahim-lah yang membawanya mantap ingin memeluk Islam, diikuti istri, anak, ayah dan mertuanya.

“Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amin.”

“Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, dan Yahudi.”

Sejak memeluk Islam, ia  ‘wakaf’kan hidupnya untuk agama Islam.  Ia mendalami bahasa Arab, belajar ilmu Al-Quran di Mesir, Maroko hingga Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara reguler tampil di acara PeaceTV, Huda TV, dan sebuah Channel Islam bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial TV untuk anak-anak bertajuk “Qisasul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.

Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara AS sejak tahun 1994. Bahkan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia

Saat ini,  ia mengelola sebuah website Islamalways.com yang memiliki moto terkenal, ”where we’re always open 24 hours a day and always plenty of free parking.” (Kami membuka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis).

“Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan menyebarkan hidayah itu ke seluruh alam,” ujarnya. Amin.[]

About Admin

Check Also

MASJID DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT

KAJIAN UTAMA Oleh Dr. Slamet Muliono   Berbisnis bukan untuk tujuan memperkaya diri tetapi untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *