Home / Masjid / Dimas Djarot Achmad Andaru: Calon Diplomat Muslim Dunia yang Dulunya Irit Bicara

Dimas Djarot Achmad Andaru: Calon Diplomat Muslim Dunia yang Dulunya Irit Bicara

RUBRIK REMAJA MASJID

Kesuksesan diawali dengan keberhasilan menata masa muda, bekerja keras dan bukan berleha-leha.

Usia muda identik dengan gejolak ingin mengetahui yang tinggi.  Hanya saja gejolak muda jika tidak diimbangi dengan upaya untuk menahan diri, bisa terperosok ke jurang. Salah satu contoh kongkret yang dapat diteladani adalah langkah pemuda asal Surabaya, Dimas Djarot Achmad Andaru. Pemuda yang akrab disapa Dimas ini  bergerak melampui capaian banyak pemuda seusianya yang masih merengekrengek minta uang saku orang tua dengan prestasi segudang. Salah satunya penghargaan sebagai The Best Younger Diplomacy Award dari dunia internasional.

Dikenal Irit Bicara

Sebenarnya, prestasi internasional Dimas bukanlah sesuatu yang datang secara tibatiba. Pria yang sedang menempuh pendidikan di salah satu sekolah berbasis agama di Surabaya ini  awalnya dikenal irit berbicara semenjak dia kecil.

Bahkan dalam keseharian, ia hanya bicara jika pada hal-hal yang perlu saja. Termasuk bercanda sekadarnya dan tidak terlalu aktif komunikasi di forum-forum besar. Ia mulai menyadari hal itu sebagai kelemahan yang harus segera diubah. Setelah lulus dari SMA, ia mengikuti tes seleksi nasional masuk perguruan tinggi (atau lebih akrab dikenal istilah SBMPTN).

Dengan izin Allah, dia lolos seleksi di jurusan Akuntansi Universitas Airlangga Surabaya. Setahun berada di jurusan itu, dia tidak kerasan. Ia memutuskan untuk pindah jurusan di universitas impiannya dan memilih Jurusan Ilmu Hukum di Universitas Indonesia (UI).

Setelah lolos dan diterima sebagai mahasiswa di sana, Dimas sempat kesulitan beradaptasi dengan lingkungan Jakarta di 3 bulan pertama. Tetapi semua itu dihadapinya dengan istiqomah dan dia akhirnya berhasil melewati masa-masa sulit di Jakarta. Di UI, ia aktif di Universitas Indonesia Model United Nations Clubs. Sebuah organisasi yang menghimpun banyak mahasiswa UI (Universitas Indonesia) untuk bergerak aktif di lingkungan internasional dengan merepresentasikan Indonesia, khususnyaUI.

Organisasi ini bergerak di isu-isu sosialpolitik-humaniora yang sedang hangat diperbincangkan dalam skala nasional maupun internasional. Semula, Dimas masuk organisasi ini sekadar ingin menghancurkan kelemahan dirinya semasa sekolah dulu. Ia bertekad untuk mengubah kelemahan jadi kekuatan secara pelanpelan. Suatu saat, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada tanggal 1 – 5 Februari 2017 sedang menyelenggarakan sebuah forum internasional rutin bertajuk World Federation of United Nations Association (WFUNA) di markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Forum ini diikuti oleh lebih dari 800 peserta dari 60 negara yang diminta untuk merumuskan, membahas, dan menentukan sikap negaranya terkait isu-isu yang sedang hangat di ranah internasional. Indonesia ambil bagian dalam forum ini dengan mengirimkan 12 peserta. Dari 12 peserta itu, Dimas salah satunya yang lolos. Dimas mengungkapkan bagaimana seleksi di tingkat nasional itu cukup ketat. Ia harus seleksi administrasi, fisik, dan akademik. Semuanya dilakukan dan atas izin Allah dia berangkat ke Amerika untuk mewakili Indonesia.

Dalam forum internasional itu, ia mempresentasikan tentang aturan hukum  (Undang-Undang) dan Sistem Peradilan Pidana di sejumlah negara di Timur Tengah (Iraq, Afghanistan, Libya, Palestina, dan sejumlah Negara Afrika). Dimas sekaligus mewakili negara-negara tersebut yang saat itu berhalangan hadir di forum tersebut akibat konflik dan perang di negaranya. Ia menyoroti soal stigma dunia internasional terhadap negara-negara di Timur Tengah yang dianggapnya salahbesar.

Label “teroris” dan tindak kriminal yang dialamatkan dunia internasional kepada negara-negara Timur Tengah dinilai sebuah kesalahan persepsi bersama. Dimas membeberkan sejumlah fakta yang membungkam hadirin di sidang internasional itu. Dimas juga memberikan sentuhan religius dengan mengutip beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan dan menjelaskan bahwa Islam mengajarkan kelembutan dan perdamaian kepada seluruh umat.

Ia memberikan sebuah analogi yang sederhana, jika Islam mengajarkan terorisme maka dunia akan hancur karena mayoritas penduduk dunia adalah Muslim. Jika Islam adalah “teroris” maka betapa mudahnya Islam membunuh seluruh orang-orang non Muslim dengan jumlah pemeluk agama Islam yang 70-80 % penduduk dunia.

Salah satu kalimat yang kemudian ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah, “Jika Islam mengajarkan kekerasan maka bumi besok, tidak perlu menunggu tahun depan, akan luluh lantak oleh kekuatan umat Islam. Islam adalah agama yang lebih toleran dari agama lain yang menganggap saudaranya adalah musuh, dan mesti dibunuh.” Dengan penuh haru, seluruh hadirin memberi aplaus dan bertepuk tangan memberi hormat kepadanya.

Tak ayal PBB mengganjarnya dengan memberi penghargaan sebagai The Best Younger Diplomacy Award dalam forum tersebut. Penghargaan ini diberikan kepada delegasi yang berhasil bernegosiasi dengan baik dan berhasil mencapai sebuah susunan perundang-undangan sebagai kesepakatan bersama/konsensus. Cerita di atas memberi gambaran bagi seluruh pemuda pembaca Masajid agar mulai menata diri sejak muda. Sebab kesuksesan diawali dengan keberhasilan menata masa muda.[]

Edisi 6 Tahun 2 Juli 2017 | Masajid

About Admin

Check Also

Perjuangan Mempertahankan Masjid Tertua Kanada

Hampir setiap masjid yang dibangun pada sebuah negara memiliki nilai budaya dan sejarah yang dibawa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *