Home / Masjid / Dicari! Kader Muda Pemakmur Masjid

Dicari! Kader Muda Pemakmur Masjid

Problem terbesar umat Islam adalah mandegnya kaderisasi. Padahal kaderisasi merupakan proyek perjuangan yang tidak boleh terhenti. Namun bukan perkara mudah untuk merealisasikan program kaderisasi ini. Dalam konteks manajemen pengelolaan masjid, takmir seringkali mengeluhkan hal ini.

Semangat takmir generasi awal untuk membangun masjid sangat bagus dan patut diajungi jempol. Namun semangat untuk mendidik atau melakukan kaderisasi pada lapis kedua menjadi titik lemah dan problem besar.

Sebagian besar masjid dibangun dan dijalankan oleh generasi pertama. Artinya masjid terwujud dan muncul dengan beberapa aktivitas memakmurkan masjid masih dikendalikan oleh generasi pertama secara penuh. Sementara keterlibatan lapis kedua, yakni generasi muda, sebagai kader akan melanjutkan aktivitas masjid masih belum terlihat.

Padahal keterlibatan pemuda, sangat diharapkan oleh semua pihak. Hal ini untuk melanjutkan perjuangan generasi pertama. Yang dikhawatirkan, bila proses kaderisasi ini mandeg, akan menghasilkan keterputusan generasi. Padahal merekalah yang menjadi harapan untuk mengelola masjid sepeninggal generasi awal.

Kebanyakan generasi muda dari anak-anak generasi awal pembangun masjid juga kurang terlihat. Sebagaimana umumnya pemuda, mereka belum tergerak hatinya untuk mendekati masjid, bahkan mereka lebih dekat dengan budaya permisif dan hedonis.

Hal ini membuat mereka jauh dari masjid. Lihatlah kegiatan mereka: menghabiskan waktu menonton TV, main gadget, play station, shopping, dan sebagainya. Di sisi lain, sebagian pemuda yang terdidik dari generasi pertama lebih cenderung mengambil studi atau belajar di perguruan tinggi umum, bahkan sebagian jurusan atau program studi yang mereka ambil justru menjauhkan dari agama mereka.

Jurusan-jurusan ekonomi, politik, akuntansi, matematika, fisika, biologi, kimia menjadi favorit mereka. Sedikit ditemukan anak-anak mengambil jurusan Bahasa Arab, hukum Islam (syariah), dasar-dasar keislaman, tafsir hadits, pendidikan Islam (tarbiyah), dan dakwah.

Sementara amal usaha di bidang pendidikan begitu banyak, sehingga kekurangan stok sumber daya manusia yang menguasai keilmuan di bidang agama.

Faktanya, banyak amal usaha bidang pendidikan atau masjid membutuhkan imam masjid atau juru dakwah. Kebutuhan itu tidak bisa terpenuhi, karena memang tidak banyak generasi terdidik yang tertarik untuk mengambil jurusan agama ketika kuliah di perguruan tinggi.

Oleh karena itu, lemahnya semangat pemuda untuk memakmurkan masjid, tidak lepas dari minimnya pengetahuan tentang wawasan keagamaan mereka. Hal itu merupakan tantangan internal kita bersama. Keterbatasan pengetahuan agama dan minimnya keterlibatan pemuda dalam pengelolaan masjid akan menjadi kendala yang besar dalam keberlangsungan dakwah di masyarakat.

Belum lagi ada tantangan internal umat Islam berupa konflik antar gerakan, juga menjadi hambatan untuk mengembangkan Islam.

Persoalan-persoalan furu’iyah (cabang) yang menyebabkan perbedaan pendapat, dan persoalan-persoalan serupa masih menjadi perdebatan dan hal yang sensitif di tengah masyarakat.

Sementara tantangan eksternal berupa kristenisasi, alisan sesat, terus berjalan hingga bisa menggerogoti dakwah. Kristenisasi telah bergerak ke berbagai sektor untuk mempengaruhi umat Islam untuk beralih agama. Oleh karena itu, bila tidak segera dilakukan langkah-langkah kongkret, maka yang terjadi bukan lagi kemajuan dakwah Islam, sebaliknya akan terjadi kemunduran dakwah.

Oleh karena itu, memakmurkan masjid membutuhkan berbagai dukungan. Salah satu di antaranya adalah adanya kesadaran internal yang kuat dari setiap individu Muslim. Dalam hal ini terus menumbuhkan dan melahirkan kader.

Kesadaran internal yang begitu kuat itu akan muncul dan tumbuh dengan konsisten apabila para kadernya memiliki dasar-dasar dan wawasan pengetahuan agama yang kuat dan mereka aplikasikan dalam praktek sehari-hari.

Sebab, bagaimanapun juga keberlanjutan memakmurkan masjid membutuhkan generasi penerus yakni pemuda. Keterlibatan mereka dalam memakmurkan masjid sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan kaderisasi kepada pemuda untuk mendekatkan diri mereka ke masjid. Salah satu di antara caranya adalah membangun semangat beragama mereka dan mengarahkan mereka untuk mempelajari agama, khususnya mereka yang kuliah di perguruan tinggi. Mereka inilah yang akan meneruskan langkah, untuk memakmurkan masjid, apabila generasi awal pembangun masjid telah menghadap Allah.[]

 

Oleh: Dr. Slamet Muliono

About Admin

Check Also

Majalah Masajid

Related

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *