Home / Kajian Utama / Dari Masjid Menjadi Negarawan

Dari Masjid Menjadi Negarawan

Dialah Muhammad al-Fatih raja sekaligus panglima perang yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada hari Selasa siang tanggal 20 Jumadil Awal 857 H.

Siapakah al-Fatih ini? Ia adalah pemuda yang semenjak kecil dididik untuk membaca al-Qur`an dan menghafalnya, juga seorang pemuda yang dekat sekali dengan masjid. Hasilnya? Dia menjadi pemuda tangguh dan panglima perang penakluk Konstantin, padahal umurnya ketika itu kurang dari 22 tahun.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang al-Fatih dan pasukannya:

 “Sungguh Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sungguh pemimpin terbaik adalah pemimpin penaklukan itu dan pasukan terbaik adalah pasukan tersebut.” (HR. Al-Hakim no. 8300, IV/468 dalam al-Mustadrâk dari Bisyr al-Ghanawi radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh Imam al-Hakim dan disetujui Imam adz-Dzahabi. Para pewarinya dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Imam al-Haitsami)

Dalam sejarah, Islam pernah menaklukkan Eropa. Siapa sangka salah satu dari Panglima Perang penakluk itu adalah seorang pemuda berusia 21 tahun, yang bernama Sultan Muhammad al-Fatih (30 Maret 14323 Mei 1481).

Ia merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika, dan menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun.

Seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dikenal tawadhu' setelah Sultan Salahuddin al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam Perang Salib melawan koalisi Kristen) dan Sultan Saifuddin Mahmud al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di 'Ain al-Jalut melawan tentara Mongol).

Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga konsep pemilihan tentaranya. Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambul (Islam keseluruhannya). Namun, kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid al-Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.

Apa Rahasia di Balik Semua Kesuksesannya?

Adalah ayahnya yang mendekatkan Muhammad al-Fatih sejak kecil ke masjid. Ayahanda juga menugasi beberapa ulama yang khusus mengajarinya al-Qur`an, fiqih, sejarah, dan strategi perang.

Menurut cerita sejarah bahwa tentara Sultan Muhammad al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat wajib sejak baligh. Adapun Sulthan Muhammad al-Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan shalat wajib, tahajjud, dan rawatib sejak baligh.

Apa mungkin Muhammad al-Fatih yang masih muda sudah mampu melakukan tindakan besar yang mengubah sejarah peradaban dunia? Ya, dalam sejarah hal ini tidak aneh. Bukankah shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Usamah juga menjadi panglima perang dalam usia 18 tahun? Sementara yang menjadi prajuritnya adalah ‘Umar bin Khathab yang termasuk sahabat senior. Ini menunjukkan umur muda tidak menghalangi untuk memiliki keimanan dan kecakapan perang yang matang sehingga Usamah dipertimbangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menetapkan Usamah memimpin ekspedisi militer menghadapi kekuatan super power Romawi? Hasilnya Usamah menang dan membawa pulang ghanimah (rampasan perang) melimpah ke Madinah.

Sifat al-Fatih yang menonjol adalah sifatnya tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan, dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.

Dalam sejarah ditulis,  pasukan Sultan Muhammad al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H (6 April 1453 M). Di hadapan tentaranya, Sultan al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, pentingannya memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah subhana wa ta'ala. Dia juga membacakan ayat-ayat al-Qur'an mengenainya serta hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembukaan Kota Konstantinopel.

Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian, dan doa kepada Allah. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H (bertepatan 29 Mei 1453 M), serangan penghabisan dilancarkan, setelah berbulan-bulan gagal dipukul mundur oleh musuh. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus Kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.

Dari sinilah Panglima ini dijuluki al-Fatih yang artinya Sang Penakluk. Sosok legendaris yang lahir di dari masjid menuju negara. Allahu a’lam.[]

Oleh: Syukri Adanan Sangadji

About Admin

Check Also

MASJID DAN SOLUSI PERPECAHAN UMAT

Kajian Utama Oleh Dr. Slamet Muliono, M.SI   Bersama-sama memakmurkan masjid, bisa menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *