Home / Lensa Dunia / BOLEHKAH IKUT AGUSTUSAN?

BOLEHKAH IKUT AGUSTUSAN?

Assalamualaikum Ustad apa hukum perayaan Kemerdekaan yang biasa disebut perayaan Agustusan? Kalau boleh, bagaimana cara yang tepat merayakannya?(Bambang Sucipto, Jakarta).

 Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Perayaan ini dikenal dalambahasa Arab dengan sebutan ‘Idul Wathon’ (Perayaan Kemerdekaan). ‘Id secara bahasa artinya adalah berulang, karena perayaan ini rutin dan berulang, baik sepekan sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali. Sementara wathon sendiri artinya tanah air, dan yang dimaksud di sini adalah perayaan hari kemerdekaan tanah air. Kaidah utama dalam masalah ibadah adalah haram kecuali apa saja yang disyariatkan agama. Jika hari raya ini dimaksudkan ibadah maka berlaku kaidah ini. Namun jika hari raya ini hanyalah tradisi (non-agama), maka yang berlaku adalah kaidah ‘masalah tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya mubah.’ Dari sundut pandang inilah, ulama berselisih pendapat, apakah hari raya kemerdekaan itu dilarang atau mubah, sesuai dengan sudut pandang apakah ia ibadah atau hanya tradisi semata. Di antara yang memandang ia hanyalah tradisi (sehingga perayaan hari kemerdekaan adalah mubah) adalah Dr. Khalid Mushlih dalam salah satu televisi yang diupload di kanal youtube: https://www.youtube.com/watch?v=nVBbP9RmaF8.

Adapun yang menganggap perayaan termasuk masalah ibadah adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sehingga ia dilarang. Dasar lainnya, karena perayaan-perayaan yang isinya main-main tetap dilarang oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, “Di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’ Warga Madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri. ”(HR. Abu Dawud no. 1134, dihasankan Ibnu Hajar).

Dalam hadits ini, ‘Id yang dirayakan oleh warga Madinah ketika itu bukanlah hari raya yang terkait ibadah, bahkan hari raya yang hanya hura-hura dan senangsenang. Namun tetap dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini menunjukkan terlarangnya membuat ‘Id baru selain dua hari ‘Id yang sudah ditetapkan syariat, baik ‘Id tersebut tidak terkait dengan ibadah, maupun terkait dengan ibadah. Juga, hari kemerdekaan RI yang dirayakan adalah bertanggal Masehi (17 Agustus), sementara dalam Islam penanggalan yang disepakati oleh ulama adalah Hijriyah, dan antara Masehi dengan Hijriyah ada selisih yang cukup jauh, artinya hari di 17 Agustus 1945 tidak jatuh di 17 Agustus 2017, jika dilihat dari tahun Hijriyah. Allah hanya mengakui tahun Hijriyah, bukan Masehi berdasarkan firmanNya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Dari pemaparan ini, kami menguatkan pendapat yang tidak membolehkannya, tapi tidak menyalahkan pihak yang membolehkan. Sebaiknya, kita memanfaatkan acara ini dengan cara yang baik, seperti mendoakan para mujahidin yang gugur mempertahankan NKRI dari penjajah Kristen. Kami memandang membaca Al-Qur’an, I’tikaf, atau silaturahmi di hari tersebut lebih baik daripada hura-hura. Allahu a’lam.[]

About Admin

Check Also

“Intoleransi” di Negeri Toleran

Dalam tata kehidupan dunia, Hak Asasai Manusia (HAM),  saat ini seolah menjadi landasan semua perkara. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *