Home / Kisah / Air Mata-Air Mata Surga

Air Mata-Air Mata Surga

Telah banyak kisah-kisah teladan tentang orang-orang besar yang menangis karena merasa bahwa dirinya begitu kecil dihadapan Allah Ta’ala. Maha besar Alla yang telah menciptakan seluruh alam beserta isinya, yang mengatur perjalanan hidup beserta hukum-hukumnya, dan yang memberi tangis dan kebahagiaan bagi umatnya. Berikut ini adalah cuplikan beberapa orang yang menunjukkan kepada kita betapa tangis dapat terjadi dalam diri siapa saja. Termasuk para sahabat-sahabat yang terkenal gagah berani.

Menangis Karena Rindu Berjumpa dengan Allah

Ali bin Sahal Al-Madani selalu bangun ketika banyak mata tertidur di tengah malam. Lalu berseru dengan suara yang memilukan, “Wahai Rabb yang dilalaikan oleh hati makhlukNya dengan penyesalan yang akan terjadi saat perjumpaan denganNya. Wahai Rabb yang tidak dirindukan oleh hamba-hambaNya, ketika tanganNya sampai kepada mereka sebelum mereka mengetahuinya.”

Kemudian dia menangis sampai-sampai para tetangganya turut menangis karena mendengar tangisannya. Lalu dia berseru, “Oh seandainya! Tuanku, sampai kapan engkau menahanku? Kirimlah aku, Tuanku, menuju indahnya janjiMu, dan Engkau tahu bahwa kerinduan telah memasuki diriku dan penantianku begitu panjang.” Lalu dia pun jatuh pingsan. Dia terus seperti itu sampai diingatkan untuk shalat Shubuh.

Herankah Kamu Melihatku Menangis?

Ibnu Abi Mulaikah menceritakan bahwa ketika ‘Abdullah bin ‘Umar berada di belakang makam dan bulan sudah hampir terbenam, tiba-tiba ‘Abdullah bin Thariq lewat dan berhenti. ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Kenapa kamu, hai putra saudaraku? Apakah kamu heran melihat aku menangis? Demi Allah, sesungguhnya bulan ini benar-benar sedang menangis  karena takut kepada Allah. Dan demi Allah andaikata kamu mengetahui hak ilmu, niscaya kamu akan menangis hingga suaramu terputus, dan bersujud hingga punggungmu patah.”

Bawalah Aku ke Kuburku, Agar Aku Bisa Melihatnya

Tatkala khalifah Harun Ar-Rasyid mendekati ajalnya, dia berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “Bawalah aku ke kuburku, agar aku bisa melihatnya!” Maka mereka pun membawanya. Ketika dia melihatnya dan menyaksikan ruangannya yang sempit, maka dia pun menangis tersedu-sedu dan membaca ayat :

«مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ * هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ»

Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dari diriku.” (QS. Al-Haqqah: 28-29)

Kemudian dia berkata, “Duhai Rabb yang kerajaanNya tidak akan hilang, kasihanilah orang yang telah kehilangan kerajaannya.”

Dan Menangislah Al-Faruq

Ketika ‘Umar bin Khattab radhiyallahuanhu datang ke Syam, dia bertemu dengan seorang rahib tua dengan baju hitam yang sedang menangis. ‘Umar ditanya apa yang menyebabkan ia menangis? Padahal rahib tua itu seorang Nashrani.

‘Umar radhiyallahuanhu menjawab, “Saya teringat firman Allah:  “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api Neraka yang panas.” (QS. Al-Ghasyiyah: 2-4)

Alangkah lunaknya hati Al-Faruq -julukan Umar bin Khattab-. Betapa mudahnya air mata menetes dari matanya, semoga Allah meridhainya. Tetesan air mata karena teringat suatu ayat Al-Quran. Hatinya selalu berkait dengan Allah Ta’ala di tempat mana pun. Dia melihat rahib yang berkonsentrasi untuk ibadah, ibadah orang-orang yang merugi. Hati ‘Umar merasa kasihan terhadap rahib yang telah menjauhi kenikmatan dunia, menjauhi kelezatan dunia, menjauhi kelezatan jiwa, menjauhi dunia seolah-olah ingin mensucikan dirinya dari dosa-dosa. Tetapi apakah rahib ini satu-satunya orang dengan kerja keras sia-sia? Tidak. Ada ribuan orang yang melenceng dari kebenaran, sementara mereka mengira telah berbuat baik, mereka menyekutukan Allah, mengklaim sesuatu tanpa izin dari Allah dan RasulNya.

Kebathilan sangatlah kentara, ia tidak mungkin berubah menjadi kebenaran. Jika kita meratapi pekerja-pekerja lelah tetapi sia-sia di zaman ini, niscaya air mata tidak akan berhenti meski hanya sedetik saja.

Kisah-kisah di atas memberi gambaran kepada kita bahwa menangis adalah hal yang manusiawi. Menangis dapat terjadi pada diri siapa saja. Termasuk kita, manusia yang penuh kekurangan dan sering melakukan kesalahan. Menangis membuat hati tenang, melembutkan hati yang keras, dan menundukkan ego kita dihadapan Allah. Sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan jika kita ingin menangis sebab kekurangan kita sebagai hamba. Bahkan, ada pepatah yang mengatakan, “Menangislah, maka akan pecah bebatuan yang ada di hatimu. Menangislah, maka jiwamu akan dihujani kebahagiaan dan gugurlah keputusasaan dari hidupmu.”

*(Diambil dari buku “Kisah-Kisah Cinta Kepada Allah Ta’ala”, penulis: Syaikh Usamah Nu’aim Mustofa & Syaikh Najib Khalid Al-Amir, Sukses Publishing, Bekasi Barat)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *