Home / Profil Da'i / SANG ULAMA RABBANI

SANG ULAMA RABBANI

RUBRIK

PROFIL DA’I

14 Masajid | Edisi Mei 2017

 

SANG ULAMA RABBANI

 

Dikenal ulama tegas dalam membela kebenaran, termasuk ulama terdepan membantah dan memperingatkan kaum Muslimin dari bahaya ISIS.

 

Beliau Adalah Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Faqih Az-Zahid Al-Wara’ Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad Al-’Abbad Al-Badr dikenal sebagai ulama yang tegas dalam membela kehormatan dan darah kaum Muslimin. Bernama lengkap ‘Abdul Muhsin bin Hamd bin ‘Abdil Muhsin bin ‘Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman keluarga Badr, sedangkan keluarga Badr berasal dari keluarga Jalaas dari suku ‘Anazah, salah satu suku ‘Adnan. Dari nasab inilah, Al-Badr dinisbatkan kepada beliau. Adapun nisbat Al-‘Abbad, diperoleh dari jalur kakek kedua beliau yang bernama ‘Abdullah yang diberi julukan ‘Abbaad.Dan julukan tersebut juga disandarkan kepada sebagian anak keturunan beliau.

Dilahirkan usai shalat ‘Isya malam Ahad, bertepatan dengan tanggal 3 Ramadhan 1353 H di sebuah kota bernama Zulfa, sebelah utara kota Riyadh. Syeih ‘Abbaad mengawali riwayat pendidikannya dengan belajar baca tulis di sebuah ‘kuttab’ (pondok tahfizh khusus anak) bersama para guru yang mulia. Selesai mengenyam pendidikan di kuttab, beliau melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ibtidaiyah di Zulfa pada tahun 1368 H dan lulus pada tahun 1371 H. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi, kemudian ke Kuliah Syari’ah di Riyadh. Ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh sebagai pengajar di sana. Dan fakultas pertama yang dibuka di Universitas tersebut adalah Fakultas Syari’ah yang mengawali proses perkuliahannya pada hari Ahad, 2 Jumaada Tsani 1381 H.

Sedangkan Syaikh adalah orang yang pertama menyampaikan pelajaran pada hari itu. Selama dua tahun, beliau menjabat sebagai Wakil Rektor di Universitas Islam Madinah. Selanjutnya, setelah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz diangkat sebagai Ketua di Pusat Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, beliau diangkat menjadi Rektor di Universitas. Beliau tetapmenduduki posisi ini hingga 26 Syawwal 1399 H setelah sebelumnya beliau terus mendesak untuk mengundurkan diri. Beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi pada bulan Muharram 1406 H setelah sebelumnya beliau rutin menyampaikan pelajaran di sana pada musim haji sebagai pembekalan bagi jama’ah haji. Terhitung sampai musim panas tahun 1428 H, beliau telah sempurna menyampaikan syarah(penjelasan) kitab Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan An-Nasaa’i, serta sebagian kitab Jami’ At- Tirmidzi.

 

Semangat Menuntut Ilmu

 

Beliau termasuk sosok yang dikaruniai semangat dalam menuntut ilmu oleh Allah sejak usia dini. Beliau selalu mencatat ilmuilmu yang beliau dapatkan dalam bukubuku catatan beliau selama menempuh seluruh jenjang pendidikan. Dan saat ini, beliau masih menyimpan catatan-catatan itu yang terhitung sejak tahun ketiga jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Beliau juga masih menyimpan manuskrip kitab Bulughul Maram karya Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang beliau dapatkan sebelum masuk ke Madrasah Ibtidaiyyah. Dan ini merupakan kitab pertama yang ada di perpustakaan pribadi beliau. Dalam kitab tersebut terdapat tulisan tangan beliau yang bertanggalkan 6 Muharram 1368 H.

 

Pujian Ulama

 

Syaikh ‘Abdurrahman Al-Afriqi berkata tentang beliau, “Beliau adalah seorang pengajar yang gemar memberi nasihat, ulama besar, pengayom, pembimbing, serta panutan dalam kebaikan. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau.” Syaikh Hammaad Al-Anshari bercerita tentang beliau, “Saya pernah pergi ke kampus (Universitas Islam Madinah) pada waktu ‘Ashar saat Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad menjabat sebagai rektornya. Saat itu, tidak ada seorang pun di kampus kecuali saya dan beliau. Lantas saya berkata kepada beliau, ‘Kenapa Anda tidak datang bersama orang yang bisa membantu Anda membuka kampus untuk Anda sebelum Anda datang?’ Kemudian beliau menjawab, ‘Saya tidak akan memperkerjakan seorang pun pada waktu seperti ini, karena ini waktu istirahat.’ Saat itu adalah waktu ‘Ashar.” Beliau juga berkomentar tentang Syaikh ‘Abdul Muhsin, “Adapun Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, sungguh kedua mataku ini tidak pernah melihat yang seperti beliau dalam kewara’an (berhati-hati terhadap perkara-perkara yang syubhat).”

 

Karya-Karya

 

Karyanya begitu banyak dan terdapat hampir di semua bidang seperti bidang Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an), hadits, aqidah, fiqih, adab dan akhlaq, dan lain-lain. Termasuk kitab yang ajaib adalah kitab Aayaat Mutasyaabihaatul Alfaadzh fil Qur’anil Kariim, wa Kaifa At-Tamyiiz Bainaha tentang ayat-ayat yang mirip dalam Al-Qur’an. Di sana beliau cantumkan semuanya disertai penjelasan bagaimana cara mengingatnya dan membedakannya. Kitab ini secara tidak langsung menunjukkan kuatnya hafalan Al-Qur’an beliau. Ditambah lagi dengan hafalan hadits yang banyak sekali dan telah diajarkan di Masjid Nabawi kepada para penuntut ilmu yang datang dari segala penjuru negeri.

 

Nasihat Syaikh Kepada ISIS

 

Syaikh Abdul Muhsin merasa perlu memberikan pendapatnya mengenai ISIS karena permintaan beberapa penuntut ilmu dan ahli ilmu yang bimbang atas sikap yang benar Ahlus Sunnah terhadap ISIS. Suriah saat itu direbut oleh Syiah yang gemar membunuh Ahlus Sunnah, dan kedatangan ISIS ke sana justru memperparah keadaan Sunni (Ahlus Sunnah). Dalam salah satu risalahnya, beliau berkata, “Beberapa waktu yang tidak lama ini, terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah (Syiah Nushairiyah) dan para penentangnya (Sunni), masuklah sekelompok yang dinamakan ISIS ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah.

Akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah yang menentang pemerintah dan membunuh Ahlus Sunnah dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.” Beliau juga berkata, “Dan untuk para pemuda yang telah ikut-ikutan di belakang penyeru kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka mengoreksi diri, kembali kepada kebenaran dan jangan berfikir untuk bergabung dengan mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan dengan bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan pisau-pisau yang telah menjadi ciri khas kelompok ini,” demikian salah satu risalah beliau. Allahu a’lam.[]

About Admin

Check Also

Syaikh Ammar Bugis: Tak Merasa Cacat di Hadapan Allah

Ammar Bugis, membaca namanya mengingatkan kita akan Indonesia, tepatnya suku Bugis, kelompok etnik asal Sulawesi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *